Sudahlah, akui saja. Dalam banyak hal, pola pikir kita itu tetap seperti orang-orang Yahudi Madinah yang kecewa ketika Nabi Muhammad datang. Akhirnya mereka berbalik memusuhinya.

Orang-orang Yahudi itu sangat tahu ciri-ciri Nabi terakhir yang dijanjikan. Dan itu mereka saksikan sendiri ada pada diri Nabi Muhammad. Hanya saja, ternyata beliau orang Arab dan bukan Yahudi seperti yang mereka harapkan.

Hari ini, kita terbelenggu pada fanatisme ormas, parpol, madzhab, jamaah, dan institusi bentukan hasil peradaban modern. Kita juga sering mengkultuskan manusia melebihi kedudukan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kita mengira bahwa perbedaan-perbedaan itu alami dan fitrah. Menurut saya tidak, itu adalah rekayasa yang sengaja atau tidak sengaja dibuat oleh manusia.

Realita perbedaan yang asli dan alami, ditegaskan oleh Allah dalam al Quran (al Hujurat: 13) itu hanya dua, yaitu syu’ub (sebuah kondisi perbedaan yang terbentuk dari interaksi antara manusia dengan alam sehingga melahirkan kebudayaan) dan qobail (kondisi perbedaan karena manusia itu punya hubungan darah sehingga membentuk keluarga/ marga secara turun temurun yang memiliki ciri khas masing-masing).

Jadi, di zaman modern ini, kita sudah terlalu jauh untuk bicara soal perbedaan, wong kita sudah gagal memahami mana realita perbedaan yang itu sunnatullah dan mana yang itu hasil rekayasa manusia. Kalau mau pakai pertanyaan pekok-pekokan, suruh siapa bikin negara, parpol, ormas, dll jika pada akhirnya justru membuat kita sesama manusia saling bermusuhan satu sama lain.

Karena kecenderungan manusia itu menciptakan berbagai rekayasa perbedaan baru atas dasar kepentingannya, baik secara politik dan ekonomi, akhirnya timbul konflik terus menerus. Sehingga dikemudian hari dilahirkanlah teori-teori yang digunakan untuk menyelesaikan konflik itu, meskipun tidak selalu disusun secara adil dan manusiawi. Silahkan dipelajari sendiri teori-teori itu seperti pluralisme, clash of civilization, dll yang jika dilihat dari kacamata al Quran, tidak memberi penyelesaian yang berarti karena hanya bersifat pragmatis untuk kepentingan sebuah peradaban atas peradaban lainnya.

Saya menghormati berbagai perbedaan, tapi saya lebih kuat memegangi yang saya yakini sebagai kebenaran. Hanya saja, dalam berinteraksi sosial kita tidak selalu harus menampilkan kebenaran, karena yang dibutuhkan adalah kebaikan. Pergaulan akan indah jika masing-masing manusia menampilkan kebaikannya, bukan memaksakan kebenarannya.

Kita memasuki zaman di mana perbedaan-perbedaan yang terjadi di sekitar kita adalah hasil rekayasa dari keseluruhan cara berpikir manusia modern. Sehingga kita bahkan tidak lagi mengenal realita perbedaan asli yang Allah titahkan sebagai sunnatullah. Lalu harus berbuat seperti apa kita? Ya silahkan direnungkan sendiri-sendiri.

Juwiring, 28 September 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.