Orang yang memprotes soal ritual penyembelihan hewan Qurban dengan dalih nalar akademiknya (semisal terkait hak asasi kebinatangan, penyiksaan, dll), saya ragukan pula keyakinan mereka terhadap kisah nabi Ibrahim yang menjadi inspirasi turunnya perintah Qurban. Paling mereka akan menertawakan kisah agung itu.

Seandainya orang-orang yang sok modern semacam itu menyaksikan peristiwa Nabi Ibrahim di zaman ini, pasti akan mendakwa Nabi Ibrahimmelakukan penganiayaan terhadap anaknya sendiri, dan akan melaporkan Nabi Ibrahim ke Polisi. Eh, mereka pun pasti tidak percaya kalau laki-laki bernama Ibrahim itu seorang Nabi, jadi mereka juga bakalan memanggil Pak Ibrahim saja.

Begitulah sempitnya filsafat modern yang sangat materialistik, membuat manusia yang terjebak dalam kerangka semacam itu akan sulit menerima hal-hal yang dianggapnya tidak masuk akal versi mereka. Padahal persoalannya adalah akal mereka menyempit karena dikungkungi filsafat yang menafikan keimanan dan eksistensi Tuhan. Nah, hari ini saya pun juga meragukan mereka akan sanggup memercayai seseorang itu bisa bermaqam wali atau tidak. Jika seseorang disebut wali, mereka paling akan meremehkan dan menganggap hal semacam itu berlebihan.

Karena fenomena kewaliyan saja tidak dipercaya, maka apakah manusia-manusia modern ini nanti juga sanggup untuk melihat datangnya Imam Mahdi. Apa dikiranya nanti Imam Mahdi bakal muncul sambil menulis di dadanya “ANAA IMAM AL MAHDI, ANAA AMIR AL MUKMINIIN, FATTABI’UNIY” begitu? Jangankan Imam Mahdi, melihat Dajjal yang sudah sangat terang seperti sekarang saja masih antara percaya dan tidak percaya. Njuk piye horok leh meh arep njelaske.

Juwiring, 13 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.