Sebuah konstruksi berpikir yang cukup mencerahkan bagi saya. Terima kasih guru. Refleksi untuk keselamatan hidup dan pemikiran, semoga bermanfaat bagi yang membacanya.

Menimbang banyaknya pengetahuan yang ada di kepala kita, mari kita bertanya. Berapa persen pengetahuan yang kita pahami secara yakin sebagai hakikat pengetahuan (atas petunjuk Allah) dan berapa persen pengetahuan yang kita peroleh dari katanya, dari buku, dari berbagai sumber yang berseliweran di sekitar kita.

Selanjutnya mari kita bertanya, dari pengetahuan yang kita peroleh dari katanya, dari buku, dari berbagai sumber itu berapa persen sumber yang valid serta bisa kita pertanggungjawabkan kebenarannya secara yakin (atas petunjuk Allah) dan berapa persen yang sumbernya tidak jelas, meragukan, atau setidaknya ia tidak bisa kita pertanggungjawabkan.

Jika kita merenung lebih dalam, maka ruang pengetahuan kita jelas diisi dua hal itu, pengetahuan yang benar dan sesuatu yang kita anggap sebagai pengetahuan (maka kita sebut saja Ilusi Pengetahuan). Nah banyak yang mana, pengetahuan yang benar atau ilusi pengetahuan.

Ilusi pengetahuan lebih berbahaya dari pada kebodohan. Jika kita menyadari kebodohan kita, itu lebih selamat karena kita akan belajar. Tetapi ilusi pengetahuan ini lebih menyesatkan dan membahayakan si pelakunya dan orang-orang yang dipengaruhinya. Dan hari ini, kita dicekam oleh kondisi yang penuh ilusi dengan informasi-informasi yang berseliweran di sekitar kita dan terkadang tidak kita perlakukan sebagaimana mestinya.

Saya sendiri banyak belajar saat berinteraksi dengan informasi, menyadari sering ketipu mentah-mentah aneka informasi dan permainan informasi yang dijalankan sesuai kepentingan pembuatnya. Ya Allah, kebohongan demi kebohongan ditebar menjadi ilusi pengetahuan kolektif. Dan yang pasti sumber-sumber pengetahuan hakiki yang Allah pancarkan tidak pernah lagi terjamah. Dan orang tidak lagi memfungsikan akal untuk berpikir dengan semestinya.

Semakin visual dan digital dunia ini, semakin mudah kita ditipu karena imajinasi kita tak lagi mampu menembus batas-batas itu. Dan yang parah, jangkauan spiritualitas kita pun tak lagi luas, dan hanya terjebak dalam ruang-ruang permusuhan kebencian berdasarkan rumor dan isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan petunjuk kepada kita semua.

Surakarta, 27 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.