Kebenaran hakiki itu tunggal, ia menjadi puncak dari hierarki kebenaran. Kebenaran hakiki bersumber dari Allah dan mewujud dalam kesadaran manusia untuk beriman. Tidak ada dikotomi dengan istilah kebenaran agama dan kebenaran sains. Jika ada dua hal bertolak belakang, curigailah bahwa salah satu atau kedua-duanya adalah ilusi kebenaran, dan curigai pula metodologi kita yang salah sehingga bisa membuat kesimpulan semacam itu.

Sebagaimana soal ibadah, manusia hidup ya kemenyeluruhannya seharusnya ibadah. Ada ibadah yang caranya ditetapkan Allah secara mutlak, ada yang caranya diserahkan pada manusia untuk kreatif. Lha kalau mengajar di sekolah dianggap urusan duniawi, lalu cuma shalat dan tilawah dianggap urusan akhirat, bukankah pola pikir aneh semacam ini sesungguhnya bentuk nyata dari sekularisme. Berarti shalat biar dipuji orang itu lebih bernilai ketimbang mengajar siswa agar mereka menjadi lebih beradab gitu? Kok dadi pekokmen.

Makanya ga usah dibanding-bandingkan, semua perilaku ibadah diniati yang ikhlas dan dikerjakan sesuai SOP-nya. Ga usah mencela mereka yang belum baik ibadah mahdhah-nya, tapi ajak dengan baik-baik. Dan tidak usah sombong dengan merasa bahwa ibadah ghairu mahdhahnya lebih keren. Ga usah sok yes gitu ah.

Juwiring, 6 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.