Masalah sampah itu, hari ini lebih krusial ketimbang pilpres.

Urusan pilpres mungkin bisa berpengaruh dalam menekan perusakan lingkungan yang dibikin perusahaan, tapi tidak dengan masalah sampah. Itu pun kalau presiden yang terpilih tidak disponsori oligarki tambang dan sawit.

Kalau Jokowi dan Prabowo, kan sudah jelas siapa sponsornya. Jadi, tahun 2019 tidak perlu berharap banyak bagaimana menghentikan perusakan lingkungan oleh perusahaan ekstraktif itu. Kalau Jokowi yang jadi, Luhut tetap eksis. Kalau Prabowo yang jadi, perusahaannya juga tetap eksis.

Jadi, sementara yang bisa kita lakukan secara kolektif adalah mengatasi sampah. Dimulai dari masing-masing kita untuk bertekad mengelola sampah sehingga bisa mengurangi sampah yang dibuang ke lingkungan. Kemudian bisa juga berkomunitas untuk menangani sampah-sampah yang tidak bisa dikelola sendiri di rumah.

Pilpres itu hanya untuk lima tahunan. Itu pun sudah pasti politikus itu hanya bisa menunaikan sebagian janjinya dan pasti penuh kekurangan. Tapi lingkungan itu untuk seumur hidup kita hingga anak cucu. Jadi alangkah konyolnya mengabaikan lingkungan demi pilpres. Itu kan sama saja menyiapkan pembunuhan massal untuk generasi manusia di masa depan.

Sampah plastik dan limbah rumah tangga yang kita hasilkan setiap hari, kalau diakumulasi tidak kalah dengan limbah industri. Kalau industri itu bisanya diatasi oleh pemerintah dengan aneka regulasinya. Sayangnya sementara ini pemerintah kita justru menghamba industri. Maka yang bisa kita lakukan ya mengelola sampah rumah tangga kita masing-masing.

Sudah tidak tepat lagi jargon “buang sampah di tempat sampah”. Tapi akan lebih tepat lagi jika “kelola sampahmu agar sehat lingkunganmu”. Sudahkah kita menjalankannya?

Surakarta, 22 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.