Secara mainstream, ukuran kemajuan kehidupan kita saat ini diukur melalui indikator materi, terutama dalam bidang ekonomi, pelaksanaan demokrasi, dan penerapan HAM.

Nah, jika umat Islam menyadari, ketiga hal itu sangat jelas di depan mata bagaimana kita ditantang apakah percaya diri untuk tetap berpegang dengan prinsip-prinsip Islam, atau berpindah haluan, atau malah jadi pengkombinasi secara pragmatis. Sudah pasti, hari ini jika kita benar-benar ingin berpegang pada prinsip Islam, pasti akan terkucilkan.

Tapi hal itu tetap berpotensi mengundang perhatian orang, karena penerapan prinsip Islam pasti membawa kemaslahatan. Maka dibuatlah banyak gerakan pseudo-Islam yang mengklaim sebagai Islam yang paling benar, ada yang pendekatannya militeristik dan revolusioner, ada yang pendekatannya pembentukan opini yang lain dari pada yang lain, baik dalam tataran liberal maupun puritan.

Nah, dengan dikepungnya umat Islam oleh pandangan mainstream yang rusak akibat ekonomi ribawi, demokrasi yang tidak demokratis, dan ajaran sesat HAM, ditambah dengan ajaran-ajaran pseudo-Islam yang dibiayai besar-besaran membuat umat Islam bingung. Hal itu diperparah oleh penyakit cinta dunia yang membuat sesama umat Islam sendiri bertengkar soal eksistensi, rebutan jabatan, hingga rebutan recehan uang.

Kalau sudah bingung karena tidak tahu mana yang paling tepat untuk diikut, lantas kamu akan percaya siapa? Percaya ulama? Siapa ulama yang bisa dipercaya? Siapa yang sebenar-benar ulama hari ini? Nah, pencarian-pencarian tanpa kenal lelah ini akan menuntun kita pada apa yang selama ini terpendam dari Islam. Bahwa resiko dikucilkan sudah pasti, jadi siap-siaplah untuk merasakan kesunyian. Toh yang penting kita membersamai banyak orang dalam kehidupan nyata. Jiwa yang sunyi akan selalu ditemani oleh jiwa-jiwa yang shalih kok. Tinggal yakin apa tidak, itu aja.

Juwiring, 18 November 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.