Setelah mempelajari lebih banyak dan mendengarkan para sesepuh bagaimana spirit pendirian Muhammadiyah, NU, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, dll rasa-rasanya memang pengin nangis. Kuasa, jabatan, dan uang memang membuat orang memberhalakan ikhtiar dari para pendahulu yang shalih.

Tanpa mendalami sejarah, maka umat Islam akan terus bertengkar dengan wasilah yang dibangun leluhurnya sendiri. Ibarat orang mau perang, karena ada kode komando yang hilang, akhirnya pasukan ini bertempur di markas sendiri, bahkan sebelum menghadapi musuh di medan perang yang sebenarnya.

Pada praktiknya, meletakkan Islam sebagai sebuah payung dari semua aktivitas kehidupan kita itu bukan main susahnya. Karena hari ini, fikih, ideologi, bahkan sampai fashion itu secara praktik diletakkan lebih primer dari pada Islam-nya. Indikatornya terlihat dari munculnya idiom dan frase-frase baru dalam kebahasaan umat Islam yang tidak pernah ada di zaman-zaman sebelumnya. Apa dikira permasalahan bahasa ini sepele? Tidak. Permasalahan bahasa justru sebenarnya masalah serius, tapi banyak diabaikan umat Islam.

Umat Islam semakin sedikit yang peduli dan mau merawat bahasanya. Jangankan bahasa al Quran, bahkan bahasa ibunya sendiri telah dilepas dari akar kebudayaannya. Yang kita lihat sekarang adalah kehidupan Islam yang tanpa pijakan kebudayaan alaminya. Wajah Islam yang kita lihat sekarang, landasannya adalah ideologi materialisme yang menurunkan berbagai kesesatan seperti kapitalisme, feminisme, HAM, dan segala teori aneh yang terbukti menghancurkan peradaban manusia.

Dengan terjajahnya umat Islam secara bahasa, bukankah keterjajahan lainnya sudah pasti terjadi. Karena dari bahasa segala definisi dikunci. Dan jika bahasa kita sekarang sudah diobrak-abrik karena umat Islam menjauhi sastra dan literasi, bukankah ini kondisi yang berbahaya. Cukup diedari meme, poster, hingga status-status provokatif, maka kita sudah saling bertengkar. Terlebih dengan adanya media sosial, pertengkaran kian didesain semunafik mungkin dimana semua hanya dikeluarkan lewat layar media sosial tapi tidak pernah dibuktikan dalam perbuatan nyata.

Dan akhirnya kita cuma bisa mendesah dan berdoa, hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.

Juwiring, 17 November 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.