Seringkali kita itu cuma kenal potongan gagasannya, tapi sudah mengklaim mengenal sosok.

Misalnya, apakah yang mengaku Muhammadiyah sebenarnya kenal betul sosok KH Ahmad Dahlan, sehingga bisa menangkap secara garis besar mengapa beliau mengasaskan gerakan Muhammadiyah?

Apakah yang mengaku NU mengenal betul sosok KH Hasyim Asy’ari dan juga mengerti betul sejarah muktamar-muktamar para kiai sebelum akhirnya melahirkan jamiah Nahdlatul Ulama?

Apakah yang mengaku tarbiyah, yang terinspirasi gerakan Ikhwanul Muslimin mengenal betul sosok Hassan al Banna? Demikian pula yang banyak merujuk pada Ibnu Taimiyah, pada para ulama yang selama ini dirujuk berlebihan sehingga terlalu fanatik dan merendahkan ulama lainnya.

Nah itu baru para ulama yang hidupnya belakangan atau berdekatan dengan masa kehidupan kita. Bagaimana dengan ulama besar di masa lalu, para salaf yang menjadi pembela Islam paling depan. Apalagi Rasulullah dan para sahabatnya. Kita mengenal mereka secara komprehensif atau baru sebatas membaca dongeng soal perang saja?

Karena mainstream soal sejarah para manusia agung di awal Islam ini yang sampai ke kita lewat kultum dan kajian kebanyakan adalah perang dan penaklukkan. Kesannya para sahabat ini kok hobi gelut saja. Padahal mereka manusia yang memiliki akhlak yang tidak akan bisa disamai generasi-generasi Islam kini. Bagaimana sisi ekonomi, kebudayaan, teknologi, dan gaya hidup mereka, luput dari kajian yang mendalam.

Jika pun kita sudah merasa membaca buku dan berguru, buku apa yang sudah kita baca dan kepada siapa kita berguru? Buku yang kita baca itu teks asli atau terjemahan? Ditulis pengasasnya langsung atau interpretasi turun temurun dari pengikutnya? Kita berguru kepada ustadz/ kiai siapa? Sanad ilmunya seperti apa? Reputasinya sebesar apa? Masih banyak pertanyaan investigatif lainnya jika mau dilanjutkan.

Jika kemampuan bahasa kita pas-pasan, tidak mampu mengakses sumber-sumber primer tentang apa yang sering diperdebatkan di publik, alangkah baiknya saling berendah hati satu sama lain. Karena pada dasarnya kita sama-sama belajar. Sedebat-debatnya kita, bersamaan dengan itu kita terus merenung dan menggali mana yang kita yakini benar. Yang kita yakini benar saat ini pun mungkin akan direvisi di kemudian hari seiring perjalanan belajar.

Tentu saja hal itu hanya berlaku bagi yang terus mencari dan belajar. Yang udah stagnan, yang enggan terbuka pikirannya, yang jumud dalam fanatisme golongan berlebihan, ya tidak perlu diikutkan dalam diskusi-diskusi lintas pemikiran. Karena secara mental dan intelektual belum siap, jangan dibebani yang tidak-tidak. Setiap orang memiliki ritme kehidupan sendiri-sendiri.

Juwiring, 27 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.