Hal yang konyol dalam pelaksanaan demokrasi di negeri kita adalah pertanyaan kepada kandidat calon pasangan presiden, gubernur, bupati, dan walikota terkiat “visi & misi”. Lebih celaka lagi kebanyakan rakyat menilai visi & misi mereka sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

Bukankah kalau kita sekarang hidup bernegara yang sudah punya Pancasila & UUD 1945 maka di situlah visi & misi yang harus diusung para kandidat. Sudah semestinya visi & misinya para kandidat sejalan dengan dua landasan bernegara itu. Maka visi & misi calon yang mau kampanye semestinya dikaji berdasarkan dua landasan itu, bukan sebatas pragmatisme kebutuhan ekonomi saja.

Ciri khas rakyat adalah merasa dirinya lebih tinggi dari para pelayannya (presiden, gubernur, bupati, walikota dan jajaran pejabatnya). Jika mengaku rakyat tapi kok munduk-munduk ketemu mereka, berarti bukan rakyat. Jika penduduk negeri ini kok sikapnya terhadap negara selalu tergantung dan tidak punya inisiatif melakukan koreksi atas pemerintah, ya wajar jika setiap pemilu kita dihadiahi pemimpin-pemimpin aneh macam begituan. Ya logis saja kan, wong penduduk, bukan rakyat. Rakyat pasti hanya akan memberi mandat kepada pemimpin yang bisa dikontrol dan diturunkan sewaktu-waktu.

Kalau di negeri ini, saya ragu bahwa yang mengangkat para presiden, gubernur, bupati, dan walikota adalah rakyat. Yang mengangkat cuma penduduk yang tidak punya kepentingan atas negara, melainkan cuma kepentingan-kepentingan pragmatis seputar ekonomi dan kekuasaan saja. Buktinya ketika mereka yang diangkat bertingkah tidak karuan, penduduk yang mengaku “rakyat” tidak bisa berbuat apa-apa. Karena baik penduduk maupun pemimpinnya memang aneh, ya wajar jika di sini timbul banyak lelucon dan dagelan yang seharusnya tidak ada di negara yang berdemokrasi, tapi di sini ada.

Di sinilah saya itu kadang sedih-sedih tertawa. Ya sedih sih sebagai anak bangsa lihat kekacauan yang makin runyam seperti saat ini. Kok ya setiap hari ada-ada saja kejadian yang menyinggung harga diri dan menimbulkan kegeraman. Tapi ya tertawa juga wong ini hal yang sebenarnya wajar saja. Wong jumlah rakyatnya ga seberapa, mosok menghasilkan pemimpin yang berdaulat. Dari 255 juta penduduk Indonesia, berapa yang sanggup jadi rakyat? Berapa yang sanggup menjadi pemberi mandat dan pencabut mandat jika yang diberi kekuasaan menyalagi tugas yang dimandatkan pada mereka.

Pada kenyataannya, kelucuan semacam ini akan kita nikmati sehari-hari. Menangis dan tertawa, ya seperti itu saja. Karena siapa pun juga bakal kesulitan mengatasi problem sistemik semacam ini yang tingkat kemunafikannya sudah sangat parah. Karena yang munafik adalah sistemnya, orang-orang lurus pun terpaksa harus berakting munafik jika masuk di dalam sistemnya. Karena sering berakting munafik, pada batas ketidaksadaran tertentu akhirnya menjadi munafik beneran. Kalau sudah munafik beneran, TAMATLAH RIWAYATNYA.

Juwiring, 14 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.