Menjadi laki-laki/perempuan adalah bagian dari kesadaran sebagai manusia. Karena hanya sebuah bagian, maka kesadaran itu harus dikontrol dengan ketat. Sayangnya kita sering lalai mengontrolnya dan di banyak kesempatan kita merasa menjadi laki-laki/perempuan di saat seharusnya tetap merasa menjadi manusia.

Kalau kata Mbah Nun, kesadaran menjadi laki-laki/perempuan itu ya tempatnya di rumah, ketika bersama pasangannya. Nah yang jomblo, hahaha ya sabar dong sampai ketemu bakal pasangannya, nglangut sithik ra popo, tak kancani. Mosok waktu di jalanan kesadaran itu tetap dihadirkan, jadinya zina mata dan nafsu. Di kantor lihat kliennya yang cantik kok tetap dengan kesadaran sebagai laki-laki yang melihat perempuan, cilaka dong nanti. Yo perempuan kan memang cantik dengan kriterianya masing-masing, mosok perempuan ganteng, piye sih uteke.

Berbagai penyimpangan dan pelanggaran seksual penyebabnya adalah kesadaran kelelakian/keperempuanan yang tidak dikontrol. Makanya ketika rasa ketertarikan kok diluahkan secara jasadi, ya jadilah praktik zina. Ketika cara pandang laki-laki/perempuannya mengalami gangguan jiwa, jadilah praktik LGBT. Lho iya, laki-laki lihat laki-laki lainnya sebagai perempuan atau perempuan lihat perempuan lainnya sebagai laki-laki atau laki-laki lihat laki-laki dan perempuan sama saja atau laki-laki melihat dirinya sebagai perempuan dan sebaliknya kan pertanda gangguan jiwa, maka kesadarannya menyimpang seperti itu.

Ilmu tentang kesadaran ini membuat komunikasi saya selamat dalam banyak hal. Karena berkomunikasi dengan lawan jenis sekalipun, jika kesadaran manusia lebih kuat ya tidak akan ada masalah serius. Bahwa mungkin pas awal ketemu kesetrum dikit wajar lah ya, asal nggak terus-terusan. Seumur-umur baru dua kali mengalami guncangan serius ketika lihat seorang perempuan dalam kesadaranku sebagai laki-laki. Pertama masa puber sehabis menamatkan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang kedua karena nggak sengaja kena strum kata-kata sastra seseorang, hahaha wagu kabeh. Woh, rasane marai adem panas kakehan mikiri sing ora-ora. Mungkin teman-teman saya yang sudah beristri setiap hari mengalami momentum beginian ya, tapi dalam konteks yang teduh karena sudah sah untuk dipikir, diingat, dan dipiyek-piyekke. Jadi pada para jomblo, bersabarlah.

Dua kali pengalaman itu menjadi pembelajaran hidup agar tidak melewatkan hari-hari dengan menganggurkan pikiran. Banyak hal yang harus dikerjakan dan dipersiapkan agar momentum yang serupa datang dengan cara yang tepat dan terkondisikan dengan baik. Agar tidak menjadi semacam kecelakaan perasaan dan bermuara pada kekecewaan panjang yang seringkali membuat hidup lebih rumit dari yang seharusnya. Dan untuk hal ini sungguh Allah menyelamatkan hati saya dari penyakit semacam itu, meskipun di peristiwa yang kedua harus rela kehilangan kepercayaan dari orang yang pernah “tanpa sengaja” saya sukai. Yang ketiga nanti harus lebih matang, dewasa, dan bisa diurus pertanggungjawabannya.

Demikian serial ilmu kesadaran yang saya peroleh dari Majelis Maiyahannya mbah Nun. Majelis perkumpulan manusia yang melatih siapa pun di sana berkumpul sebagai manusia, bukan sebagai laki-laki atau perempuan, bukan sebagai priyayi atau preman, bukan sebagai kawula atau ndara, tapi sebagai manusia, abdullah, dan rakyat Indonesia.

Juwiring, 10 November 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.