Di antara kata yang bikin ribut saat ini adalah “aqidah”, salah satu alim di Mekah pun membuat pembahasan tentang asal muasal kata tersebut. Tentu saja pertama mencari konteksnya dalam ayat-ayat al Quran, lalu dari kalimat-kalimat di riwayat kehidupan Rasulullah, lalu di kebiasaan orang Arab pada zaman itu. Hasilnya, tidak ada konteks yang bisa dipertanggungjawabkan mengenai hubungan kata aqidah dengan iman. Kata aqidah sebagai istilah baru muncul ketika umat Islam ribut akibat datangnya filsafat Yunani di pemikiran Islam. Bahkan beberapa ulama memilih menulis kitab tentang keimanan tetap dengan bab Iman.

Maka pertanyaan, “akidahnya bagaimana?”, “akidahnya bener apa nggak?” adalah pertanyaan yang konyol (kata sang alim ini). Idiom yang baku di zaman Islam ini bermula ada iman, dien, dan akhlak. Makanya ada seorang Badui datang, tanya soal Iman dan Islam, dijawab Rasul, dia mengucapkan persaksiannya, lalu pulang. Thats enough. Dalam berteman, pesannya nabi juga diwakili dengan kata dien (kemudian diterjemahkan sebagai agama) dan akhlak. Dalam, mencari pendamping hidup salah satu kriterianya juga dien (agama).

Kenapa orang sekarang menjadi begitu menyusahkan orang lain dalam memperkenalkan Islam. Bukankah contoh terbaik adalah Rasulullah dan sahabat. Mereka mengajarkan Islam sebagai makna dan perilaku yang terpuji. Jadi untuk mengajarkan shalat, ya shalat saja dengan baik. Kalau pas punya posisi, ya himbau dengan baik dan fasilitasi, ning jangan maksa orang buat shalat.

Di masa yang dikit-dikit serba identifikatif, apa-apa harus dikasih istilah baru. Akibatnya idiom-idiom yang telah baku dalam al Quran dan hadits soal penerapan Islam menjadi terlupakan, diganti dengan istilah-istilah baru yang diperdebatkan dan diyakini dengan pandangan konyol. Misal kata Syaikh, saiki sapa wae anggere disebut syaikh pokoke warbyasah, marai ngakak tenan. Padahal jane kata syaikh ki apa to jane. Kok saiki anggere ngaji karo syaikh pokoke warbyasah.

Dampak lainnya, lahir kelompok-kelompok ekstrim yang ber-Islam dari modal istilah yang diciptakan sendiri. Ada kaum Islam yang konon sibuk di haqiqat, ada yang di syariat, ada yang baru ma’rifat, ada yang bertariqat, trus aneh-aneh liyane. Padahal bukannya pengamalan Islam ki menyeluruh, kuncine ana ning ati – pikiran sing murni, karo lelaku kang becik lan tansah disinau. Tak soal hari ini begini, karena belajar lalu merasa ada harus diperbaiki maka di kemudian diperbaiki. Jangan sampai kita jadi pihak-pihak yang membuat orang kerdil pikirannya dalam belajar Islam, lalu justru orang itu menjadi jumud, ekstrim, fanatik, bahkan menjadi bengis terhadap manusia lainnya. Wani nanggung dosane po?

Juwiring, 4 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.