Sebagai umat Islam, kita seharusnya bertanya mengapa untuk menziarahi tanah kita sendiri kok harus bayar visa dan dibatasi izin tinggalnya. Lha haramain itu milik siapa? Milik Kerajaan Saudi Arabia? Lho katanya mereka pelayan dua tanah suci itu.

Mungkin ada jawaban pragmatis yang mengatakan bahwa kalau tidak diatur seperti itu nanti ada chaos dahsyat di sana. Oke, alasan masuk akal. Tapi jika umat Islam yang ke sana mendapat status sebagai orang asing yang haknya atas dua tanah suci itu berbeda dengan warga Saudi sendiri, coba pikirkan hal ini. Dalam level tertentu ini penghinaan lho.

Apalagi jika sekarang mulai lahir cara berpikir bahwa Islam-nya orang-orang Arab lebih berkualitas dari pada non-Arab. Sehingga banyak sekali ustadz-ustadz kita yang habis belajar dari sana merasa lebih superior sehingga merendahkan para ulama lokal kita dan menuduh kiai-kiai kita sebagai ahli bid’ah, pembawa ajaran sesat, dll tanpa adanya dialog dan bahtsul masail. Ini tidak sekedar penghinaan, tapi pembodohan.

Kesadaran kita atas hal yang sangat penting ini akan membuat kita memiliki persatuan kembali. Jangan anti terhadap warga Saudi, tapi mulai kritislah pada pemerintah Saudi. Banyak warga Saudi yang mulai tercerahkan dan mereka mengajukan protes atas kebijakan pemerintahnya yang pro AS dan melanggar ketentuan-ketentuan dalam Islam. Kini mereka mendekam di penjara. Kelak yang seperti merekalah yang akan menjadi pasukan setia al Mahdi untuk menghalau pasukan pemerintah Saudi ketika baiat setia sudah diikrarkan.

Kelak teman-teman salafi-wahabi di Saudi pun akan sampai pada pemahaman bahwa ada beberapa bagian dari manhaj mereka yang harus diluruskan. Tidak semua orang salafi-wahabi tentu saja, karena pasti tetap akan ada yang fanatik dengan pemerintahnya yang kini dengan jelas kita lihat persekutuannya dengan siapa dan di mana berpihak terhadap kepentingan strategis umat Islam di seluruh dunia. Pun demikian kita, kita akan saling mencari sambungan persaudaraan satu sama lain dengan mengoreksi metode-metode yang kita rumuskan.

Merestorasi khilafah Islam tidak mungkin dicapai tanpa kesadaran kita kembali menjadi satu tubuh sebagai umat Islam. Itu artinya ketika saat ini kita masih fanatik dengan manhaj kita masing-masing sudah pasti persatuan itu tidak akan terwujud. Kita harus mulai melakukan peninjauan internal dan melakukan penyesuaian satu sama lain. Membangun silaturahim dan saling bertukar pikiran.

Kita harus kembali pada al Quran dan menempatkan hadits sebagai pendukung penjelasan dalam al Quran. Bukan seperti kebanyakan ulama sekarang di mana terkadang hadits didudukkan pada posisi setara dengan al Quran, malah kadang lebih primer dari al Quran. Studi-studi terhadap al Quran perlu digalakkan, dengan prinsip bahwa al Quran itu aktual, menjelaskan keadaan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Al Quran itu konten sekaligus metode. Artinya kisah-kisah dalam al Quran jangan hanya dipahami sebagai informasi, tetapi harus ditelaah lebih dalam bahwa ada metodologi tersembunyi yang ada dalam kisah itu. Semuanya adalah kerja akal yang dibimbing nur-Nya.

Dengan semangat berdialog dan berdiskusi, terutama dalam membahas realitas sosial saat ini, kita akan terhindar dari kebiasaan saling menyesatkan satu sama lain. Karena kita punya hakim yang sama, yakni al Quran. Sikap rendah hati untuk tidak merasa paling benar, tetapi selalu menggunakan premis bahwa “pendapat saya mungkin benar, mungkin juga salah” akan menyelamatkan ukhuwah umat Islam. Namun, kita harus sadar, premis semacam itu hanya sanggup diucapkan oleh orang-orang yang terbebas dari kepentingan pragmatisme kekuasaan dan keinginan untuk menumpuk harta dunia.

Juwiring, 5 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.