Wah lha nek sing mbok bahas riba terus, karepmu bank kon tutup? Ya nggak. Dalam skala bisnis yang besar kita tetap butuh jasa kurir pembayaran dan pengambilan uang, kita juga butuh pihak yang menjadi saksi dan mengadministrasikan perjanjian kita. Di situ bank masih dapat berperan. Kelirunya bank saat ini kan karena tidak transparan dalam aliran uang dan merampok pihak yang gagal membayar hutang. Tapi itu tidak dapat ditentang, karena dilegalkan oleh undang-undang dan disetujui si peminjam saat mau meminjam.

Sisi tidak transparannya misalnya, kita menitipkan uang 100 juta, bank kan tidak pernah memberi tahu kita 100 juta itu dikelola untuk apa, tahu-tahu kita dapat bonus. Padahal kalau itu dipakai bisnis, ya kita kan yang punya uang (eh konon uang milik BI ding, hahaha), masak tiba-tiba dipinjamkan, parahnya malah dialirkan ke casino. Pernah lihat bank yang transparan gini? Hahaha, ngimpi. Selain itu, sangat tidak bijak jika kita membenci bank dan anti pegawai bank. Pegawai bank juga seperti kita, mereka butuh bekerja untuk menghidupi keluarga.

Jadi masalah riba ini masalah kita bersama, jangan sok suci dan suka melemparkan kesalahan pada pihak lain. Apalagi ndalil di pengajian cuma buat mencari nasabah baru dari bank konvensional ke bank syariah. Apalagi jika bukan apa-apanya bank, kesenengen bank-nya lah punya agen pemasaran gratis. Wong sumbernya sama-sama dari BI, BI kiblatnya IMF dan World Bank kok iso-isone sing syariah luwih Islami ketimbang sing konvensional. Di sinilah saya berani bilang, dodolan jasa yo dodolan jasa wae, ra usah dodolan agama.

Jangan dikit-dikit suka pro dan anti. Tapi pelajari masalahnya, katakan yang salah sebagai hal yang salah dan yang benar sebagai hal yang benar. Benar salah itu tidak ada urusannya dengan suka dan benci. Karena suka cewek meski nggak disukai balik sama ceweknya kan tidak masalah, itu tidak berkaitan dengan salah dan benar. Baru jadi salah kalau memaksakan rasa suka sampai melakukan intimidasi dan manipulasi untuk membuatnya terpaksa menyukai kita. Baru jadi benar kalau pendekatannya spiritual dengan meminta tolong kepada Allah dan memperbaiki diri sampai pada titik takdir bahwa dia memang jadi jodoh kita. Jika bukan, ya ga perlu kecewa, kan memang bukan jodoh kita. Jadi ambil yang menjadi hak kita dan jangan merebut hak orang lain.

Juwiring, 23 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.