Sebagaimana beratnya menjelaskan nalar riba dan konsep ibadah menurut al-Quran, nalar demokrasi mayoritas rakyat Indonesia pun sebenarnya punya masalah serius. Aneka masalah yang kita hadapi tidak lain karena pola pikir dan sikap kita yang inkonsisten terhadap demokrasi.

Dalam nalar demokrasi, seharusnya kedudukan presiden, gubernur, bupati, dan walikota adalah pelayan rakyat. Mereka difasilitasi dengan berbagai hal untuk menjalankan tugasnya melayani rakyat. Tapi nalar masyarakat kita malah menempatkan mereka seperti raja-raja di zaman feodal dulu. Lebih celaka lagi para pelayan ini diletakkan sebagai auliya dalam pengertian yang terkandung dalam al Quran.

Karena rakyat justru mengagungkan pelayan bagai raja, para pelayan ini pun banyak yang bertingkah raja beneran. Dalam demokrasi, para pelayan seharusnya bekerja di bawah ketentuan undang-undang. Namun karena para pelayan ini merasa dirinya raja dan dipuja sebagai raja oleh masyarakat, akhirnya para pelayan ini menempatkan undang-undang di bawah kehendak mereka. Maka tak heran, meskipun undang-undang dibuat dan sebenarnya isinya banyak yang sudah sesuai dengan aspirasi bangsa, dilaksanakan seenaknya oleh para pelayan ini.

Maka PR besar kita ada pada pendidikan yang mencerdaskan masyarakat. Sistem sekolah formal terbukti tidak mampu menjawab kebutuhan ini. Maka dibutuhkan terobosan kreatif dari masyarakat sendiri agar kembali berdaya dan mampu memberi perhitungan kepada pemerintah agar tidak semena-mena. Itulah seharusnya yang menjadi perjuangan kita saat ini. Akan sangat menarik jika suatu saat ada caleg kampanye di dapilnya, rakyat mulai cerdas memberi respon, “Ekonomi kami sudah mandiri dan stabil, pendidikan di daerah kami sudah integral, kebudayaan masyarakat kami sudah terjaga, Anda ke sini mau menawarkan apa? Kalau cuma tebar janji, mending pergi dari sini, kami yang punya negara, bukan Anda. Kalau Anda goblok dan egois, buat apa kami memilih Anda, wong tidak bisa memperjuangkan aspirasi kami. Toh kami sudah dapat hidup berdaya dan mandiri.”

Saya selalu berusaha berimajinasi tentang hal-hal ideal agar tidak kehilangan acuan. Bukan berarti tidak realistis, tapi kita perlu berusaha konsisten dengan prinsip yang telah disepakati. Kecuali kita adalah jenis orang-orang munafiq yang membuat teori baru bahwa syurga dapat digapai dengan memperbanyak maksiat. Jika ber-Islam ya ber-Islam sesuai asasnya, tidak cuma pamer fisiknya. Jika berdemokrasi ya berdemokrasi sesuai prinsipnya, tidak cuma pamer urusan kampanye dan pemilunya.

Ngawen, 23 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.