Konsep internasionalisme itu bisa menjadi penjajahan jika tidak dilandasi kesadaran. Karena dalam konsep internasionalisme, mau tidak mau ada proses hegemoni pemikiran dan nilai antar bangsa.

Ketika masih nggumun-nggumunnya sama yang serba Inggris dan keminggris, menurut saya sesuatu yang berlabel internasional itu kalau serba pakai bahasa Inggris. Setelah besar, saya sadar, ternyata tidak seperti itu.

Menurut saya perjuangan Indonesia menuju internasionalisasi ya dengan memperkenalkan apa yang baik-baik yang telah diwariskan leluhur kita kepada dunia luar. Bukan cuma jadi tukang makai pemikiran dari negara lain.

Kita punya kuliner, sains, teknologi, seni, budaya, bahkan termasuk bagaimana membangun peradaban Islam yang jauh lebih bagus dibandingkan negara-negara lain di dunia yang penuh konflik dan penindasan seperti sekarang.

Namun sayang, sekarang kita mulai membunuhnya satu per satu dengan menjadi orang lain. Beruntunglah masih ada segelintir generasi muda yang tidak ikut-ikutan menuju kehancuran itu. Ada juga bule-bule dan warga asing yang mulai belajar tentang tradisi kehidupan Nusantara. Mereka-merekalah agen internasionalisasi yang sesungguhnya.

Di tengah pembunuhan nilai bangsa yang dilakukan rame-rame baik oleh pemerintah dan masyarakatnya sendiri, ada segolongan orang yang bertahan dengan akal sehatnya untuk tetap menjalankan titah leluhur bangsa ini. Kita tidak akan tahu wajah negeri ini ke depan, dan tidak perlu risau soal negara, karena yang terpenting adalah kita tetap membawa nilai-nilai kehidupan yang baik yang telah diwariskan para leluhur kita.

Juwiring, 21 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.