Kubah masjid yang bundar inspirasinya lahir setelah kekuasaan Islam menaklukkan Romawi Timur Byzantium dan melihat banyak gereja Kristen Timur dengan kubah seperti itu, sebelum akhirnya mengalami modifikasi dan derivasi sampai buanyak kayak sekarang. Kubah gereja Kristen Timur masih dapat dijumpai di Rusia.

Menara masjid inspirasinya dari kuil-kuil Majusi untuk tempat api dan pemujaan setelah kekuasaan Islam menaklukkan Persia Raya. Sekarang selalu disandingkan dengan masjid dan mengalami modifikasi macam-macam. Dulu dinaiki untuk mengumandangkan azan. Sekarang digunakan untuk menaruh speaker.

Karpet/ permadani konon pertama-tama yang membuat adalah bangsa China dan telah menjadi komoditas perdagangan jauh sebelum kelahirannya Nabi Muhammad SAW. Setelah masuk pengaruh Islam, variasi motifnya terus berkembang menjadi bermacam-macam. Apalagi permadani menjadi bagian penting dalam mendukung peribadatan umat Islam.

Baju koko, asalnya dari China, sering dipakai para pendekar. Baju shalwar-qamis yang sering dipakai orang-orang Salafi, asalnya dari Hindustan, orang muslim maupun hindu ya pakaiannya seperti itu. Jubah yang panjang menjuntai sampai betis atau lebih ke bawah lagi, asalnya dari Arab. Sekarang, semuanya telah dimodifikasi dan dilabeli pakaian Islami. Nasib Surjan dan Jarit diejek sebagai pakaian Kejawen, asyem tenan to.

Lalu ketika Pak Ridwan Kamil membuat masjid yang tidak berkubah dan bermenara seperti umumnya, dianggap kurang Islami. Saat kita pakai kaos, padahal juga menutup aurat dianggap tidak Islami. Demikianlah ketika Islam dislempitke turut barang-barang kadonyan, jadinya Islam yang dibuat klaim-klaiman, bukan bagaimana Islam menjadi kerangka dan setting utama kebudayaan kita, sehingga kebudayaan kita itu sangat Islami tanpa harus dilabeli Islami.

Juwiring, 20 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.