Konon, mengapa kehidupan kita sekarang sedemikian rempong? Sebab pendidikan di keluarga banyak yang belum mampu memberikan rasa yang paripurna pada manusia-manusia di dalamnya.

Bahwa manusia punya hasrat untuk eksis, diakui, dan mendapatkan segala bentuk pengakuannya memang iya. Tapi keluarga lah yang bisa membentuk manusia untuk selesai dengan dirinya sendiri sebelum berurusan dengan banyak manusia di luar sana.

Sekiranya manusia-manusia yang tumbuh di keluarga sudah selesai dengan dirinya sendiri, niscaya interaksi sosial kita isinya adalah saling mendahulukan dan saling menjaga kenyamanan. Tidak akan ada eksis-eksisan macam sekarang. Apalagi kok sampai populer istilah politisi.

Lingkungan sosial yang nyata berbeda dengan medsos. Di medsos kita bisa pilih-pilih untuk hanya membaca status siapa dan berduel dengan siapa. Di lingkungan sosial yang nyata, hal itu tidak bisa. Sebab bertetangga itu harus siap menerima keluarga lain seutuhnya. Menerima seutuhnya itu termasuk siap merasakan hal-hal “buruk” dari tetangga.

Tapi keruwetan kehidupan sosial masa kini sudah sedemikian kompleks. Artinya orang tua semakin berat tugasnya untuk mendidik anak agar memiliki kesadaran yang paripurna soal dirinya sendiri. Sebab di luar sana, banyak tawaran macam-macam pada anak kita agar ia tidak menjadi dirinya sendiri. Banyak iklan yang siap menyesatkan anak-anak untuk meninggalkan jati dirinya.

Tapi itu cuma konon kok. Konon dengkulku. Yang pakai pikiran, sebaiknya nggak usah baca status ini. Cuma dengkul yang bisa mengerti.

Surakarta, 11 November 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.