Konstelasi yang sudah baku dari dulu sampai sekarang, berdasarkan pengalaman lapangan, pengusaha itu selalu punya centheng di pemerintahan dan legislatif, mau lokal, asing, maupun aseng. Mau politisinya kelihatan sholeh atau pun tidak.

Inti permainannya terletak seberapa mampu tim pemerintahan dan legislatif itu mengakomodasi kepentingan rakyat dalam permainan politik mereka sehingga rakyat tidak diperas-peras amat dalam paguyuban “tangan kepercayaan” perusahaan yang menyebut dirinya pemerintah pusat dan pemerintah daerah itu.

Toh rakyat ya nrima saja kok, kalau dikasih tahu bahwa mereka bisa berdaulat lho, bisa menyusun platform kehidupan sendiri yang berkeadilan lho, kebanyakan rakyat ya juga masih enggan merespon, masih senang hidup sendiri-sendiri, kadang ndugang kancane juga, seperti halnya para pengusaha rakus yang suka mainin centheng di pusat kekuasaan.

Tapi atas semua itu, saya yakin rakyat nanti juga akan punya rasa jenuh. Hidup egois dan menipu sesama itu merugikan, sampai akhirnya mengalami kehidupan yang celaka bersama-sama, asal masih ingat jalan pulangnya (Islam), pasti akan kembali berhimpun. Yang penting sekarang selagi mampu yang bertahan saja dalam nilai-nilai kebaikan yang mungkin dilakukan.

Setiap individu PR-nya berat untuk tetap bertahan baik di tengah guncangan sistem yang korup dan penuh manipulasi seperti hari ini. Ya nggak harus 100% benar-benar bersih dan perfect, ga bisa, nek meh ngono nggawe planet bumi KW 2 wae. Berbuat baik dalam skala individu semampunya itu tujuannya biar membuat Allah terharu.

Jangan lupa, kita juga terhubung dengan sistem alam semesta. Pernahkah mencicipi air hujan yang terasa lebih asam, sehingga tidak mampu menyuburkan tanah seperti dahulu. Pernahkah memperhatikan jenis pepohonan/ tanaman yang sekarang dominan, dan mana yang menghilang. Dan ada banyak peristiwa alam yang sedang bergolak, tapi tidak kita perhatikan karena sibuk bermain handphone.

Nah, alam pun akan menuju titik keseimbangannya, entah akan menelan korban manusia atau tidak. Pelajari deh potensi-potensi gempa yang saat ini ditangan BNPB. Mereka sampai berdoa agar getaran itu terjadi sesering mungkin dan terdistribusi secara zamani dalam amplitudo yang kecil sehingga tidak menimbulkan kerusakan. Tapi bumi itu mengikuti perintah siapa? Perintah manusia?

Akhirnya kita akan mengerti, bahwa kita kecil, dan perbuatan kolektif kita meskipun kecil-kecil akan berdampak besar untuk kita tanggung bersama.

Juwiring, 16 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.