Setelah 40 hari meninggalnya nenek dari ayah, seorang tamu yang dikenal baik oleh ayah, datang bertamu. Awalnya dia bertanya, sebelum meninggal apakah nenek menyebutkan sesuatu tentang dirinya? Dijawab tidak ada. Sang tamu ini pun menjelaskan bahwa dia sekarang sukses berbisnis karena dulu dimodali alm. nenek sekian puluh juta. Sang tamu ini pun menyicil pembayaran hutangnya seraya berjanji melunasi hutangnya.

Kata ayah, alm. nenek yang dikenal sebagai mbok bakul paling kece di pasar kecamatan dikenal suka menolong teman-temannya dengan meminjami uang tanpa bunga sedikitpun, bahkan sertifikat tanahnya sering disekolahkan ke bank demi meminjami temannya. Sayangnya banyak di antara mereka yang ngemplang dan jika ditotal yang tidak dikembalikan sampai beliau meninggal lebih dari 30-an juta, itu pun yang disebut-sebut nenek karena mereka ngemplang.

Karena selama sakit beliau sendiri tidak berpesan apa-apa soal penagihan piutang pada teman-temannya maka pihak keluarga pun tidak ingin memperpanjang perkara. Dan bapak yang satu ini memberi contoh bahwa orang jujur yang mau nyaur utang masih ada. Seandainya pak bakul ini tidak datang dan menceritakan tentu saja keluarga tidak tahu bahwa ternyata dulu beliau juga pernah meminjaminya. Yang menarik, meski dikenal sebagai bakul yang suka menolong dan dihutangi, rumah beliau tetap limasan dengan lantai jobin (ubin dari batu kapur) sampai kemudian dibangunkan rumah tembok yang baru oleh putra-putrinya sebelum meninggalnya.

Saya belajar dari alm. nenek tentang kesederhanaan hidup dan tidak memperpanjang masalah. Karena dalam interaksi itu, jika kedua belah pihak tidak menemukan solusi bersama, maka salah satu pihak bisa saja membuat keputusan sepihak untuk tidak memperpanjang masalah. Tidak hanya soal hutang piutang, tapi juga dalam banyak hal. Karena dengan kita berusaha nrima terkait urusan pribadi kita ya kita sendiri kok yang merasakan kenikmatannya. Tapi ini tidak berlaku jika kita berposisi sebagai pengurus pemerintahan, karena kalau diamanahi di pemerintahan itu berarti kalau ada rakyat yang tertindas ya wajib dilindungi dengan taruhan nyawa, bukan nrima. Nah, kalau tidak siap jadi pengemban tanggung jawab rakyat, mending mundur wae, ketimbang hidupnya ruwet dan nasib akhiratnya embuh.

Ngawen, 4 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.