Sains dan teknologi yang dikembangkan dalam dunia kampus saat ini sebenarnya belum mampu menangkap warisan sains dari leluhur kita. Juga ilmu sosial dan humaniora yang pernah diwariskan oleh leluhur kita, misalnya strategi Walisongo dalam meng-Islam-kan Jawa, belum banyak dikaji dengan sangat terang oleh para ilmuwan di kampus negeri ini.

Dan saya harus bilang, bahwa ternyata ada lho para ilmuwan luar kampus yang memiliki rahasia sains, teknologi, dan ilmu sosial humaniora yang hingga hari ini masih hidup dan memilih menjadi rakyat biasa. Dari mereka saya punya perimbangan wawasan dan cara berpikir baru untuk melihat berbagai keadaan di sekitar.

Dan saya tidak akan bercerita siapa saja sih mereka, karena proses mengenal mereka itu juga berawal dari percaya dulu. Sebagaimana saya menulis status-status semacam ini, saya tidak berpikir terlalu jauh bahwa orang akan percaya. Terserah saja, tidak ada ruginya bagi saya. Wong ini tempat aktualisasi saya, kadang isinya serius, kadang nyampah doang. Saya tidak perlu menandai kapan serius, kapan saya bergurau, yang pasti saya berusaha tidak berbohong. Kalau suatu saat saya keliru, pasti saya klarifikasi.

Konsep ilmu itu dimulai dari keyakinan dulu kok. Salah satu pintu keyakinan adalah memperhatikan alam ciptaan Allah dan tanda-tanda-Nya. Nabi Muhammad meraih wahyu Allah dengan keyakinannya yang tinggi, tidak seperti kita yang suka ragu-ragu. Para ilmuwan dapat merumuskan ilmu baru karena keyakinan mereka dalam bekerja, tidak seperti kita yang nunggu berita saja. Ilmu itu pemberian dari Allah, boleh percaya boleh tidak. Belajar atau melakukan aktivitas akademik itu hanya salah satu dari sekian ratus cara agar Allah menganugerahi ilmu itu.

Makanya mau matematika, fisika, biologi, dan ilmu lainnya yang dikategorikan “ilmu umum” menurut cara berpikir sekuler, proses pemahamannya ya tak ada bedanya dengan fikih, hadits, dan ilmu yang dikategorikan “ilmu agama” menurut cara berpikir sekuler sekarang. Karena semua ilmu itu datangnya dari Allah, diajarkan secara sempurna kepada para Nabi dan diserap secara parsial, global, atau bercuil-cuil oleh manusia biasa yang mau menggunakan akal. Lha kalau tidak menggunakan akalnya? Maaf saya tidak mau membahas yang itu. Takut menyinggung diri saya sendiri. Hahaha.

Makanya pasti bohong, kalau ada orang yang mengaku lebih pintar dari para Nabi. Mentang-mentang jaman Nabi belum ada gadget lalu bilang manusia-manusia zaman Nabi itu bodoh, masih primitif. Nanti dulu, kualat baru tahu rasa. Termasuk dalam menyebut wali itu jangan sak klek, kita menyebut seseorang wali itu karena husnudzan kita pada beliau atas keunggulan ilmu yang dianugerahkan Allah padanya. Jadi jangan berdebat dia wali beneran apa bukan, emangnya kalian Allah?

Tapi apa orang sekarang percaya tentang fenomena kewaliyan dan kenabian? Seandainya Nabi Isa saat ini sudah turun kembali ke bumi (sesuai dengan keyakinan kita pada tanda-tanda akhir zaman), apa kita yakin bisa mengenali beliau? Yakin? Hahaha

Juwiring, 2 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.