Yang lucu dalam dialektika kesehatan itu adalah orang menghubungkan antara penyakit dan kematian dengan asumsi bahwa kalau salah penanganan matinya lebih cepat. Hahaha, berarti Allah manut kehendak manusia dalam mematikan seseorang dong.

Harusnya kita berhati-hati bicara soal kematian. Soal malpraktek atau salah penanganan kesehatan itu jangan disangkutpautkan dengan kematian seseorang, tapi tautkan pada dosa dan tanggung jawab kemanusiaannya. Nek jenenge mati ki yo cen wis tekan titi wancine, jangan dikaitkan dengan si dokter. Tuntutlah dokter secara ilmiah atas kemungkinan kesalahan prakteknya, tanpa melibatkan pasal pembunuhan.

Sebagaimana kita anti korupsi, itu jangan karena eman duitnya. Tapi karena kita beriman bahwa korupsi itu dosa besar yang menimbulkan kerusakan besar bagi umat. Jadi seandainya ada koruptor itu mengakui korupsinya secara jantan, namun tidak mampu mengembalikan uang yang telah dikorupsinya karena telah dihabiskan untuk foya-foya dan umroh, ya jangan diungkit-ungkit. Duit iso digoleki meneh, tapi harga taubatnya si koruptor (ditandai dengan mau mengakui terang-terangan) itu jauh lebih mahal dari sekedar uang yang dimalingnya.

Logika yang dibangun oleh ilmu-ilmu yang dilandasi filsafat materialisme itu memang lucu-lucu, lebih tepatnya memang menafikan eksistensi Allah. Makanya perjuangan dakwah seorang intelektual itu ya memang melawan kesesatan semacam ini. Anehnya di kampus-kampus saat ini kita justru menjumpai aktivis dakwah yang berkepribadian belah, dia semangat untuk urusan dakwah berbasis ceramah dan politik, tetapi bersamaan dengan itu beriman saja pada aneka ilmu yang diajarkan oleh dosen-dosennya, tanpa memiliki ikhtiar untuk mengajukan bantahan atas filsafat ilmu yang materialistik yang diajarkan oleh dosen-dosennya. Ini kan aneh, pada saat bersamaan beriman secara ritual tapi kafir secara metodologi.

Seloroh yang konyol soal ini adalah ya mau gimana lagi, wong Allah statusnya juga cuma dicomot nuansanya dalam Pancasila. Kan di Pancasila cuma ditulis ketuhanan, bukan menyebut eksistensi Tuhan secara jelas. Hahaha, tapi jangan marah lho ya, yang bagian paragraf ini cuma bercanda. Bagaimana pun, rumusan Pancasila itu rumusan perjanjian bernegara yang sangat keren dibandingkan negara-negara lain di seluruh dunia saat ini.

Juwiring, 21 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.