Masyarakat Indonesia insya Allah selalu cinta tanah airnya, cinta negerinya, dan siap mati demi mempertahankannya. Tapi belum tentu lho cinta dan siap mengabdi pada negaranya, karena kadang pemerintahan negaranya justru malah merepotkan masyarakat.

Masyarakat Indonesia insya Allah juga mencintai para pemimpinnya. Tapi belum tentu lho cinta sama penguasanya, karena terkadang para penguasa berlaku seperti penjajah yang hanya menghisap masyarakat dan menindastanpa belas kasih.

Semoga Allah selalu mempersatukan hati masyarakat Indonesia dalam ukhuwah yang murni, tidak hanya sekedar ikatan sebatas negara, tetapi ikatan cinta untuk selalu bersaudara dan menjaga persekutuan bangsa-bangsa yang kini melebur menjadi bangsa Indonesia. Sebuah nikmat yang tak ternilai harganya. Karena sebelumnya, bangsa-bangsa ini sering bertarung satu sama lain sehingga ketika imperialisme Eropa datang kita mudah ditaklukkan dengan cara diadu domba satu sama lain.

Hari ini kita diuji dan hendak dipecah belah dengan berbagai dikotomi dan istilah-istilah yang dipropagandakan secara masif. Berbagai isu dan pemberitaan yang berbau pecah belah terus diproduksi secara marak. Setiap lahir kelompok ekstrimis langsung dibahas berlarut-larut untuk melahirkan bentuk-bentuk pemikiran ekstrim lainnya. Istilah teroris, fundamentalis, radikal, dan berbagai istilah negatif dimunculkan untuk mengobrak-abrik pikiran masyarakat, khususnya umat Islam sehingga mereka saling berdebat satu sama lain.

Semakin hari, potensi perpecahan terus melebar di mana-mana, tapi media memanipulasi perpecahan itu dengan aneka kamuflase berita. Bukannya dijembatani agar keretakan tak meluas, potensi perpecahan terus bertambah karena semakin banyaknya kepentingan yang bermuara pada nafsu kekayaan dan kekuasaan. Bahkan dalam skala-skala yayasan dan sekolah, perpecahan pun sering terjadi hanya gara-gara duit dan pembagian kekuasaan yang tidak memuaskan.

Di mana-mana kita akan lebih mudah menyalahkan sesama kita, ketimbang merunut akar-akar dari kerusakan yang sudah kompleks ini. Cara hidup kita yang memang tidak terkendali di segala bidang, membuat perseteruan sesama kita terus memuncak. Ditambah adanya intervensi di luar kita yang memang mengharapkan kehancuran negeri ini.

Yang paling menyedihkan, bahkan Islam sepertinya tinggal nama, karena ada inkonsistensi keadaan dimana seharusnya Islam itu mempersatukan dan memberikan pengayoman kepada siapa pun yang mau berdamai dengan pemeluknya, sekarang justru terlihat banyaknya perpecahan di tengah umat Islam. Sudah pasti bukan Islamnya yang salah, tapi pemeluknya yang perlu evaluasi diri berapa % Islam yang tersisa dalam dirinya.

Semoga Allah kekalkan persatuan yang telah terbina ini. Jagalah masyarakat Indonesia dari perpecahan, ya Allah. Cabutlah mandat pada negara yang mengkhianati negeri tempat berdirinya, cabutlah mandat kekuasaan pada penguasa yang mengkhianati masyarakatnya.

Juwiring, 26 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.