Jane simpel kok, jaman Pak Harto beliau utangnya ke Barat dan sekutu-sekutunya. Nah, jaman Pak Jokowi sekarang, beliau utangnya ke Tiongkok dan sekutu-sekutunya. Mereka berdua sama-sama ingin membangun infrastruktur agar pertumbuhan ekonomi bangsa ini meningkat.

Nah masalahnya, kalau Barat dulu cuma mengirim konsultan sambil merampok secara halus lewat perusahaan-perusahaan multinasional dengan jumlah rampokan yang fantastis, sementara Tiongkok mengirim jutaan penduduknya untuk jadi pekerja agar kehidupan mereka lebih sejahtera, karena masih banyak rakyat Tiongkok yang belum sejahtera dalam ukuran mereka.

Pertanyaannya kembali ke bangsa Indonesia. Kita kan maunya hidup enak tapi dana pembangunannya tidak ngutang. Padahal angka korupsi birokrasi kita sangat parah, ditambah kehidupan rakyat yang sedemikian konsumtif. Kalau memang tidak ingin ada investasi besar, sanggupkah kita melakukan gerakan mandiri dan tidak konsumtif. Masukan untuk pemerintah adalah memanggil kembali orang-orang cerdas negeri ini dan memberi kepercayaan penuh dan kesempatan berkarya. Masukan untuk rakyat adalah memastikan untuk tidak hidup konsumtif dan hanya mau mengkonsumsi produk anak bangsa.

Bisa po? Hahaha. Dan sebelum menyalahkan pemerintah berlebihan, terlebih lagi menghujat Jokowi, lihat diri kita. Seberapa konsumtifkah kita? Nek kita ternyata juga masih konsumtif, ya mbok ra usah ngelek-elek pemerintah berlebihan. Bahwa pemerintah kita lebih suka tunduk pada kepentingan asing, itu kan sudah sejak lama. Kita dulu diajak hidup susah dulu di zaman Bung Karno nyatanya yo tidak sanggup kok. Wkwkwk. Ya udah lah ya, tanggung rame-rame lah ini. NKRI macam ini ya disyukuri saja, nanti nggak bubar aja sudah alhamdulillah kok.

Tenang aja, nanti pembangunan demi pembangunan akan meningkat. Anda yang jadi pegawai perusahaan elit akan semakin sejahtera kok. Silahkan menikmati mall dan segala kemewahannya. Shalatlah dengan khusyu’ dan fokuslah pada isu-isu langit, lupakan nasib kaum yang ditindas di pinggiran itu. Bukankah kehidupan Islam yang ingin kita lihat adalah kehidupan ala Islam yang individualistik, yang anti budaya dan anti segala macam kultur atas nama puritanisme kan? Maumu kita kan mengikuti negara-negara Barat yang sistemnya sudah robotik kayak gitu kan. Ya terus-terusna wae. Lanjutkan, nikmatilah kehancuran kemanusiaanmu.

Juwiring, 19 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.