Saya sepakat sama mbah Nun soal pendirian kita sebagai negara merdeka. Kalau kita dianggap negara tertinggal, rasanya aneh. Kan kita memang visinya tidak searah dengan negara Barat, kok dikatai negara tertinggal. Tapi kalau kita justru berbalik arah dan berkiblat pada Barat, dijamin tertinggal dan akhirnya modar diapusi entek-entekan. Globalisasi, pasar bebas, HAM, demokrasi, dll, preketek sekali. Kita jadi koplak karena ga mau mikir bikin mekanisme yang khas Indonesia, tapi milih njiplak dan terima jadi saja.

Arab Saudi yang katanya negara Islam, para elitnya kerajaan sekarang berkiblat ke AS. Demikian pula di negeri kita, murid-muridnya orientalis makin berjibun dan mafia ekonomi berlimpah, bahkan sekarang makin ngetrend beasiswa ke luar negeri kan. Akhirnya karya leluhur kita dikatai tradisional dan diejek oleh orang kita sendiri yang habis merantau tadi. Yang pulang dari Barat, ngejeknya pakai istilah “kampungan”. Yang pulang dari Timteng, ngejeknya pakai istilah “bid’ah, sesat, dkk”.

Dan yang lebih lucu, sebagian generasi Islam negeri ini menjadi generasi separuhan, maksudnya dia sangat Islami dalam amal yaumiahnya, tapi bersamaan dengan itu praktek keilmuannya sangat sekuler membebek para orientalis Barat tadi. Bahkan yang paling ekstrim, ada segerombolan anak bangsa kita, begitu dengar promosi jihad dikasih kafalah xxxx USD langsung colut ke ISIS. Padahal senjatanya dari AS, kendaraan tempurnya mobil jeep/ sportnya dari Jepang. Jihad cap apa kuwi? Jihad modern al maghribiyah. Wkwkwk

Juwiring, 13 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.