Jadi politisi di negeri ini memang butuh nyali besar. Sekaligus ambisi besar untuk berkuasa penuh, bukan sekedar kepenak duduk di kursinya.

Sediktator-diktatornya Suharto, dia menyadari betapa jahatnya kaum kapitalis menindas rakyat negeri ini, sekalipun ia mengecualikan anak-anaknya sehingga menyalahgunakan kekuasaan ayahnya untuk menjadi kapitalis kroco juga.

Kesadaran dia akan pembangunan dan keadaan ekonomi di berbagai tempat itulah yang mendorongnya berani menerbitkan uang merah. Yaitu uang-uang resmi tapi berstatus gelap karena nomor serinya tidak terdaftar di BI, otomatis tidak dilaporkan di Bank Dunia, dan tidak dicatat secara resmi di bank sentral Barat penguasa dolar saat ini.

Hal itu ia lakukan agar daerah-daerah yang kekurangan liquiditas bisa tumbuh ekonominya. Begitu BI dan mata-matanya curiga, Suharto perintahkan anak buah kepercayaannya memindah uang merah itu ke tempat lain lagi. Namun lama-lama ketahuan juga dan para raja uang Barat itu marah besar. Diseranglah negeri ini dengan krisis moneter yang parah. Tujuannya jelas, membuat Suharto menyerah.

Sepeninggalnya, negeri ini jadi bancakan yang lebih parah. Sebab penerusnya diktator ya enggak, tapi pemberani ya enggak. Yang idenya cemerlang pasti dijatuhkan paksa setelah berkuasa sesaat. Yang bisa berkuasa lama, pokoknya yang penting dapat jabatan. Toh rakyatnya juga cuma hore-hore ampe sekarang. Dengan rakyat yang hobinya hore-hore dan gigihnya kalau udah urusan dukung mendukung di pemilu, buat apa pusing jadi presiden. Santai ajalah jadi presiden itu, bisa bikin lagu atau main film kan. Toh rakyatnya juga asyik-asyik aja.

Berlomba-lombalah jadi presiden. Sebab rakyat negeri ini asyik. Cukup bisa nyanyi dan berakting. Sukses kok. Hehehe.

Surakarta, 20 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.