Kehebohan soal Shadiq Khan yang jadi walikota London muslim pertama itu bikin anu. Ya gimana ya, beginilah umat yang sudah kehilangan standar dan referensi tokoh-tokoh besar sejarah mereka akibat kurang suka baca dan sowan pada sesepuh.

Ntar kalau dibuka siapa Shadiq Khan dan kenapa bisa jadi walikota London, kaitannya dengan ideologi kiri, organisasi buruh, termasuk dukungan organisasinya untuk Papua Merdeka ntar jadi eneg. Bagaimanapun kebanggaan menjadi seorang muslim itu seharusnya tanpa perlu alasan macam-macam. Kalau memang beriman pada Allah, ya wis, arepa sak dunya ora gelem beriman yo ben, penting aku tetep muslim, arepa dewekan.

Kesannya kok jadi minder gitu. Persis kayak kasus jauh sebelumnya yang mencari-cari pembenaran sains atas peristiwa Isra’ Mi’raj. Lha kalau memang beriman bahwa Nabi menjalani Isra’ Mi’raj dengan buraq ya sudah, diimani. Nek kowe ndadak nguthek-uthek pakai ilmu fisika sekarang, yo nek bener. Emangnya kecepatan cahaya itu sudah pasti kecepatan yang paling besar nilainya di alam semesta? Nek mengko ketemu formula anyar, ketemu fakta anyar sing ketoke bertentangan, rak kowe malah dadi ra beriman akhire.

Sakmadya wae to. Yo melu seneng yen ana walikota muslim di negara mayoritas non muslim. Tapi ya jangan njet gawe spekulasi sing ora-ora. Apa meneh asline ga ruh sapa ndeke. Rak yo netral wae kan penak to Om.

Juwiring, 7 Mei 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.