Wis to mas, watak kekuasaan itu ya seperti itu. Dan sayangnya pembelajaran shirah nabawiyah kita itu terputus secara metodologi. Dikiranya penerus Nabi itu para khalifah (penguasa). Sehingga yang jadi standar kisah-kisah sejarah Peradaban Islam selalu fokus pada para penguasa saja. Padahal penguasa ki cuma segelintir orang, sementara rakyat dan masyarakat jauh lebih besar jumlahnya.

Konsep kenabian diteruskan oleh para pewarisnya, yakni para ulama. Jika Nabi Muhammad adalah pemimpin umat, maka ya penerusnya adalah para ulama. Masalahe saiki sing mbok anggep ulama sapa? Ya kembali saja kepada kepribadian nabi secara utuh, sing mirip beliau gaya hidupnya berarti kira-kira mereka pantas kita sebut sebagai ulama. Dudu sing dilabeli Kiai, Ustadz, Syaikh dll, ora mesthi kuwi.

Konsep kerasulan diteruskan dengan konsep kekhilafahan. Tapi kekhilafahan berada di bawah wewenang kerasulan dan kenabian. Makanya ada khalifah yang kadang juga seorang ulama, tetapi lebih banyak khalifah adalah penguasa tulen yang dengan tabiat zalim dan kerusakannya. Maka dari itulah keabsahan para penguasa Islam, karena banyak ulama yang mau berbaiat pada mereka dan memberi legitimasi kekuasaan kepada meraka. Dan umat akan mengikuti para ulama untuk menaati penguasa. Tapi apa semua ulama mau mengakui mereka? Imam Abu Hanifah saja selama hidup tidak pernah mau berbaiat pada para penguasa Bani Umayyah yang kala itu berkuasa.

Apalagi di zaman sekarang. Nek setiap penguasa mbok anggep kayak Sultan, kayak Syah, kayak Raja di era-era keemasan Islam, yo mesakke men. Mereka itu urusannya dengan Allah saja sudah sedemikian seriusnya, kok malah masih dituntut-tuntut yang tidak-tidak. Kalau zaman dulu Sultan itu benar-benar memiliki kekuasaan mutlak atas wilayahnya sehingga dia bisa benar-benar menjadi penguasa adil atau zalim sekalian. Nah sekarang, wong para penguasa itu malah senang, dikiranya itu prestasi kok. Makanya bagi mereka proyek dikorupsi sehingga timbul bencana atau kerusakan di masyarakat ya biasa-biasa saja. Ini kan urusan serius mereka dengan Allah jadinya.

Sudahlah, bukan berarti pasif, tapi sakmadya wae pada mereka. Pas mereka baik, didukung. Tapi kita semua tahu bahwa kebanyakan penguasa sekarang ya memang kayak gitu, fokus pada dirinya sendiri dan kelompoknya. Ya wis cetha to. Tur nek kita terlalu berharap besar pada mereka, apa ndak menakutkan nanti kita justru menjadi umat yang melakukan kesyirikan. Mosok malah meng-Allah-kan penguasa. Seolah-olah donya ki muk duweke para penguasa. Mereka itu kasihan, nasibnya ketar-ketir. Tapi kadang mengherankan juga, kok mereka senyum-senyum.

Itu semata-mata bukan salah mereka. Tabiat zaman, kerusakan sistem sosial yang ada membuat kita memiliki penguasa-penguasa yang bukan saja aneh, tapi meragukan untuk disebut penguasa. Karena mereka boleh jadi tidak berkuasa apa-apa meskipun disebut penguasa. Bupatimu durung tentu sing nguasani kabupatenmu. Gubernurmu belum tentu sing nguasani provinsimu. Presidenmu belum tentu sing nguasani negaramu. Kok mumet men sih mikir sing ra jelas ngene.

Yang jadi sumber masalah adalah karena kita sebenarnya tidak paham terhadap akar permasalahan hidup kita sendiri. Padahal kita ini siapa to, hidup buat apa to. Gitu aja kok repot. Demikian kata Gus Dur.

Juwiring, 6 Mei 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.