Dalam konteks negara yang katanya berdemokrasi, presiden, gubernur, dan bupati itu adalah jabatan yang setara dengan “pembantu” dalam lingkupnya masing-masing. Hanya di Indonesia, rakyat itu sangat tawadhu’ dan memperlakukan pembantu-pembantu mereka seperti raja. Ketika pembantu mereka benar-benar merasa menjadi raja dan bertingkah mirip raja, rakyat malah melongo. Do piye sih, nek pembantu ki wangkal tur cluthak, dugang po disikat to ya. Ini masih terus diharap-harap, didukung-dukung sampai do bertarung satu sama lain.

Lha iki malah do nggowo-nggowo ayat bahwa para presiden, gubernur, dan bupati adalah auliya. Maaf, ini kok saya bingung. Kalau mereka memang auliya, maka pertama-tama mari kita batalkan dahulu sila keempat Pancasila dan berbagai pasal konstitusi yang berkaitan dengan pelaksanaan demokrasi. Kita teguhkan kembali negara ini sebagai negara kerajaan atau apa pun yang konsepnya feodal di mana presiden, gubernur, dan bupati adalah pemimpin yang wajib dihormati dan ditaati, apa pun yang keluar dari mulut mereka.

Saya geli lihat kekonyolan seputar pilkada. Sekaligus saya sedih karena ayat-ayat al Quran dijadikan guyonan seperti sekarang. Memang kasihan ketika rakyat itu tidak tahu lagi siapa yang seharusnya diangkat sebagai auliya’. Malah do nganggep pembantunya sebagai auliya’. Sesesat-sesatnya orang musyrik zaman dahulu, mereka menyekutukan Allah dengan pihak-pihak yang dianggap sakti, minimal menurut anggapan mereka kesaktiannya bisa menyamai Allah gitu. Lha orang sekarang ini, mosok level “pembantu”, cangkeme busuk kalau ngomong, tingkahe ngawur, ora mutu, tur do seneng banda donya ra umum, tur yo ra ampuh, kok malah dianggep auliya’, pelindunge. Jurrrrrrr. Nalarku ra tekan dengan cara berpikir orang modern Indonesia zaman ini.

Makanya sampai Cak Nun sampai bilang, goblok ki oleh, ning ya aja nemen-nemen ngono lho. Mesakke kewan-kewan sing do nyawang menungsa. Barangkali memang karena di mana-mana beliau melihat pemandangan konyol semacam ini. Dan karena mayoritas itu berkutat pada cara berpikir yang seperti itu ya, kita memang ga akan bisa keluar dari masalah. Katakanlah se-Indonesia, yang sadar bahwa presiden itu adalah “pembantunya” cuma 1 % ya memang harus sabar, karena ada 99 % masyarakat yang menganggap “pembantunya” adalah raja yang dijunjung-junjungnya. Meskipun mengecewakan, 5 tahun lagi dijunjung lagi. Kecewa, njunjung lagi, kecewa, njunjung lagi, sampai mati.

Ya semoga kita bisa menjadi 1 % yang tertawa sambil sedih. Kita kan penginnya hidup pakai nalar waras, tapi ya gimana lagi, terpaksa kita mengikuti sistem global yang nalarnya aneh seperti ini. Saya rasa kalau pun kita terus berbuat kesalahan, Allah Maha Memaklumi. Lha piye, 1 % rek, masih susah untuk mengalahkan yang 99 %. Kan ini negara demokrasi. Katanya begitu.

Juwiring, 12 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.