Boleh-boleh saja kan misalnya suatu saat rakyat di desa-desa yang telah mandiri itu menjadi motor untuk memberikan pernyataan konstitusional dalam mengoreksi pemerintahan.

Misalnya setelah KPU mengumumkan calon-calonnya, lalu pas pilkada sekian desa golput bersama. Ketika dikonfirmasi mengapa golput, rakyat di desa-desa itu sudah cerdas dengan menjawab, “lha calon yang tersedia tidak ada yang layak dipilih.”

Lalu setelah penetapan, mereka menggugat hasilnya karena suara sang pemenang tidak mencerminkan realitas publik daerahnya. Jika dituduh makar, dengan enteng rakyat menjawab. “Yang punya negara ini kami, kami cinta NKRI, tapi jangan lantas disamakan dengan harus mendukungmu.”

Sungguh saya berharap suatu saat media massa mati karena tidak dikonsumsi rakyat. Rakyat lebih suka cangkrukan di warung kopi, termasuk sekolah-sekolah mulai banyak tidak didaftari, karena rakyat lebih percaya mendidik anak-anaknya sendiri. Angkringan menjadi lebih laris dan prapatan menjadi tempat jagongan, bukan lagi mendem dan ndangdutan koplo semalaman.

Saya selalu bermimpi Indonesia yang para pemimpinnya membanggakan seperti Bung Karno dan bapak-bapak di zamannya. Yang kalau pidato meyakinkan rakyatnya, filosofis dan bermartabat. Tidak kebanyakan pamer istri dan harta kekayaan kayak sekarang. Meskipun Bung Karno istrinya banyak, kesan yang dikenang adalah kepemimpinannya. Saya daftarkan mimpi saya kepada Allah sebagai saham rasa cinta saya untuk negeri ini.

Juwiring, 8 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.