Wong Islam neng Indonesia ki mulai aneh dengan Pancasila. Padahal kelima butirnya mengadopsi prinsip-prinsip Islam yang asasi. Ketuhanan Yang Maha Esa, bukankah ini nama lain untuk Tauhid. Lalu kata adil dan adab, itu dari khazanah peradaban mana yak? Lalu kata hikmat (serapan dari hikmah) dan musyawarah itu dari peradaban mana juga yak? Peradaban Islam to. Kenapa kita nggak mengawalnya agar maknanya tetap seperti asal kata itu.

Justru karena kita tidak berpartisipasi membangun tafsir sesuai nilai Quran dan mengaktualisasikannya lagi akhirnya sekarang bingung sendiri, ribut sendiri, udur-uduran ra nggenah, dan semakin ahistoris. Puncak dari ahistorisme ini adalah keluarnya pernyataan-pernyataan yang ekstrim. Tolak Pancasila, teriak-teriak ganti landasan negara. Wong landasan negara kita itu sudah jelas mewakili aspirasi umat Islam kok. Ameh diganti piye, nek ameh ganti, mending NKRI ne diganti dengan negara baru yang lebih bisa menerapkan Pancasila karena sekarang sudah mulai melanggar sila keempat.

Di sinilah terlihat bagaimana kita memang mengalami kekosongan serius. Siapa pakar dari umat Islam yang fokus menekuni masalah tafsir Pancasila ini, yang meneruskan perjuangan Buya Hamka, Mohammad Natsir, Ajip Rosyidi, Muhammad Roem, Wahid Hasyim, dan para tokoh-tokoh umat Islam founding fathers kala itu. Kita mengalami keterputusan generasi dan mengalami bias sejarah dengan menyontek mentah-mentah negara lain. Lalu menjadi inferior dan mulai jadi fansboy pemimpin negara-negara asing mirip seperti mengidolakan grup boyband.

Padahal dengan Pancasila ini, jika umat Islam mau kompak, penerapan syariat Islam bisa terjamin dan tetap harmoni dengan pemeluk lainnya. Problemnya, kita lebih suka berselisih sesama umat Islam dan suka mencontek negara lain, apalagi sekarang malah jadi ngekor Timur Tengah yang dahulunya adalah satu negara besar kini terpecah belah dan terus bermusuhan satu sama lain. Memang aneh, kita malah ingin mencontoh kehidupan negara-negara yang bahasanya sudah disatukan oleh bahasa al-Quran seperti itu, tapi tetap saja berpecah belah. Padahal Quran jelas melarang kita untuk berpecah belah dan agar selalu berpegang pada agama Allah.

Surakarta, 12 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.