Jangan melawan negara, pasti kalah, banyak korban berjatuhan, dan akan terjadi adu domba tak berkesudahan. Negara itu hanya alat, dulu didirikan untuk melaksanakan mandat-mandat rakyat.

Jika sekarang negara lebih sering jadi alatnya pengusaha ketimbang jadi pelayannya rakyat, ya berarti rakyat perlu mencabut mandatnya lagi. Tidak perlu lewat DPR, wong mereka belum tentu wakil rakyat. Kita lakukan saja hal-hal wajar sebagai sesama manusia untuk mendelegitimasi negara.

Jika model sekolah mainstream bikin susah, ya sudah mari bikin model pendidikan sendiri. Yang jadi pemikir merumuskan model yang sesuai kebutuhan masyarakat, yang jadi calon orang tua siap mendukungnya. Jangan tanya soal negara dulu, ini soal sekolah sepakati dulu. Oke dirikan sekolah, jawab tantangan sosial semampunya, biar nanti negara kalau merasa perlu ya biar nimbrung ngurusin. Wong kita yang raja, kok disuruh-suruh manut sama negara.

Apa semudah itu? Ya enggak. Tapi kalau ingin negara sehat, rakyatnya yang harus sadar dan ubet. Wong negara itu bikinannya rakyat. Kan lucu dan wagu saja, mosok para pembikinnya tidak bisa mengendalikan apa yang dibikinnya sendiri.

Kuncinya mari pola pikir kita dikembalikan pada prinsip al Quran. Seorang mukmin itu lebih berharga dari dunia seisinya. Seorang manusia itu senilai dengan seluruh manusia. Membunuh seorang manusia tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah, sama saja membunuh manusia seluruhnya. Nah negara sebesar apa? Kan lebih kecil dari nilai seorang manusia.

Tidak usah berlomba jadi penguasa, tidak perlu juga larut dalam arus dukung mendukung buta. Biar proses penegakan kepemimpinan kita kembali sehat, tidak dikelilingi oleh peristiwa pencitraan kayak sekarang. Negara itu lebih kecil nilainya dari nyawa seorang manusia. Negaranya saja nilainya kecil, apalagi presidennya kan.

Nah, negara kan salah satu berhala yang kita sembah dan ditakuti sekarang ini kan. Ngaku saja lah, nggak hanya kamu, aku juga. Jadi tidak usah mbagusi sok ngomong tauhid nggedebus, jika memanusiakan manusia saja masih belum mampu dan masih ketakutan menghadapi negara.

Sekali lagi jangan terpikir mengangkat senjata melawan negara, demi keselamatan kita bersama. Negara itu bikininan bangsa kita, yang tinggal kita reparasi atau diinstall ulang, bukan dilawan.

Ngawen, 29 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.