Dalam berpolitik itu, semestinya ada kesepakatan sosial semacam alur karir yang jelas. Bukan semacam siklus pendek yang membuat orang lupa usia. Ngasi tuwek jik ngompol (ngomando politik) wae.

Kalau masih cinta mati sama partai, ya berarti tetaplah jadi pengurus partai, jangan coba-coba nyalon jadi pejabat publik. Begitu ingin mengemban posisi publik, entah di parlemen, pemerintahan, maupun peradilan berarti itu siap naik kelas.

Kesiapan mengemban posisi publik di parlemen, pemerintahan, maupun peradilan hendaknya diikuti kerelaan untuk melepas segala hubungan dengan partai secara administratif. Secara batin, diikuti kedewasaan bahwa apa pun yang terjadi pada partai biar diurus generasi kemudian.

Begitu selesai mengemban posisi publik, baik parlemen, pemerintahan, maupun peradilan ya berarti sudah tidak kembali lagi ke parpol. Ia memiliki kedudukan yang lebih agung sebagai sosok negarawan yang ngomongnya tidak lagi soal kemenangan kubunya dalam berpolitik. Pantang baginya ngomong recehan seputar rebutan kursi kekuasaan, wong sudah pernah jadi penguasa kok.

Di posisi negarawan itulah ia mulai menelurkan karya-karya pemikiran sebagai hasil perenungan panjang selama menjadi pejabat publik. Ia mewariskan apa yang bermanfaat pada masanya dan memberikan evaluasi atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Sambil menunggu kematian menjemputnya. Sehingga ketika mati namanya harum dikenang sebagai negarawan.

Nah, masalahnya, publik semacam kita pun juga tidak memiliki kesadaran untuk membangun kesepakatan sosial semacam itu. Kita menganggap hal wajar ketika ada orang yang sampai tua masih tetap mengejar kursi kekuasaan. Padahal zaman raja-raja dulu saja mereka bosan berkuasa. Banyak yang belum sampai wafat pun sudah meletakkan tahta untuk penerusnya. Agar mereka bisa bertaubat dan menyendiri menunggu kematiannya.

Lha sekarang itu malah lebih parah je. Entah apa pun alasannya, orang seperti Ustadz Abdul Somad yang menjadi salah satu guru bangsa saat ini pun dipakakke untuk permainan para politisi itu. Memang sungguh konyol dan lucu pikiran orang-orang sekarang. Saya berharap beliau teguh dan istiqomah dengan lakunya, tidak terpancing dengan aneka rekomendasi dan bujuk rayu kekuasaan. Tetaplah berdakwah keliling memberikan pencerahan pada umat Islam yang mengundang. Umat lebih butuh ditenangkan, agar tidak terpancing pada adu domba yang cukup mengerikan ini.

Surakarta, 8 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.