Meributkan kinerja Presiden Jokowi dengan isu-isu identitas dan keagamaan itu ga akan ada selesainya.

Padahal isu-isu ekonomi, penegakan hukum, dan kerusakan lingkungan sangat jelas di depan mata kalau mau dikuliti sampai habis-habisan.

Tapi ya gitu deh. Sebagian rakyat itu senangnya yang identitas-identitasan gitu je maunya. Hal-hal yang urgen dan benar-benar menyangkut kemaslahatan publik dan bisa diukur dengan riset malah diabaikan.

Begitu hujatan dilayangkan pada perkara identitas keagamaan sang Presiden, akan segera muncul pembelaan yang tak kalah gila. Itu wajar, sebab setahu saya Presiden Jokowi dalam urusan identitas keagamaan tidak seburuk yang diramaikan.

Tapi saya memaklumi, sebab menguliti masalah ekonomi, penegakan hukum, dan kerusakan lingkungan itu butuh riset dan mikir panjang. Kalau soal-soal identitas itu kan tidak perlu mikir panjang, cukup olah perasaan dan rasa klub-kluban sudah bisa bikin greng.

Nah, ronin-ronin semacam saya ini akhirnya ya cuma bisanya nyetatus nggak karuan gini. Lha mau disalurkan ke klan mana, wong para klan itu umumnya tidak benar-benar mengevaluasi kinerja pemerintah berdasarkan isu-isu riilnya. Apalagi wakil rakyatnya juga tidak punya ikatan definitif dengan rakyat yang diwakilinya.

Dengan selalu mencuatnya isu-isu abstrak mengalahkan hal-hal riil yang sangat jelas di depan mata, saya mulai berpikir bahwa tipe demokrasi yang diselenggarakan di Indonesia memang berbeda dari alam demokrasi yang saya pikirkan. Ini memang demokrasi alam ghaib yang untuk memilih para penguasanya, diperlukan penerawangan ghaib, informasi para dukun dan kiai spiritual, maupun hal-hal yang tidak masuk akal lainnya.

Surakarta, 26 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.