Pada dasarnya, pemilu itu hanya metode agar orang berkuasa tanpa harus bunuh-bunuhan.

Asumsinya, orang-orang yang ikut pemilu itu orang-orang yang ingin berkuasa, tapi tetap dalam koridor untuk kepentingan umum.

Jadi, betapa anehnya kalau rakyat sampai ada yang pethenthengan dalam pemilu ini seolah-olah memposisikan pilihannya seperti orang super baik, dan kompetitornya sebagai orang super jahat.

Atau, jika memang sudah seperti itu kita persilahkan saja mereka yang memang gatel untuk bertengkar supaya bertengkar saja. Syaratnya satu, tarung hidup mati. Jadi kalau salah satu atau kedua-duanya belum mati, pertarungan nggak boleh berhenti.

Sebab, ketimbang mereka kampanye memproduksi kebencian dan mempengaruhi orang lain, kan mending energinya dihabiskan untuk duel. Apalagi mereka meyakini perjuangan memenangkan kubunya adalah pengabdian. Kan kalau mati mereka akan puas dan bisa diberi gelar pahlawan (kalau ada yang ngasih).

Demokrasi dan pemilu di Indonesia itu sudah salah arah. Kalau kampanye murahan dengan saling serang antar kubu semacam ini diterus-teruskan, apa bedanya dengan masa-masa dahulu ketika para pangeran hendak berebut tahta kekuasaan dengan menghalalkan segala cara demi kemenangan. Kalau zaman kerajaan sih itu masuk akal. Lagian rakyat tetap saja cuma jadi penonton saja.

Lha ini demokrasi, yang katanya rakyat punya partisipasi. Tapi apa boleh buat, politisinya memang sukanya seperti itu, memproduksi kerusakan. Timsesnya apa lagi, sukanya meproduksi hoax dan kebencian. Dan rakyatnya, mau-maunya jadi relawan gratisan. Nggak dibayar, nggak dapat jaminan, tapi malah saling bertengkar satu sama lain. Anehnya.

Surakarta, 23 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.