Keberhasilan Vladimir Putin mengatasi pemberontakan Kaukasus bisa dijadikan referensi untuk pemerintah RI dalam mengatasi OPM.

Rusia sudah menerapkan cara-cara militer selama puluhan tahun untuk melawan para mujahidin Kaukasus. Hasilnya nihil, pasukan Rusia tidak pernah berhasil menaklukkan mereka.

Hingga akhirnya Putin menggelar referendum dengan syarat. Jika penduduk Kaukasus menang, maka pemerintah Rusia akan membayar ganti rugi, mengampuni semua mujahidin, memberi hak penuh untuk membentuk pemerintahan sendiri dengan syariat Islam, tapi Kaukasus harus tetap menjadi bagian dari federasi Rusia.

Hasilnya justru sangat menguntungkan Rusia. Di bawah kepemimpinan Ramzan Khadirov, Kaukasus justru menjadi penyokong setia Rusia. Bahkan penumpasan ISIS, salah satunya adalah jasa dari pasukan mujahidin Kaukasus yang diterjunkan bersama Hizbullah Lebanon untuk membantu pemerintah Suriah melawan ISIS dan jaringan pemberontak lainnya. Dengan pengalaman tempurnya yang teruji sewaktu menghadapi Rusia, pasukan mujahidin Kaukasus adalah lawan yang tangguh untuk pasukan ISIS bentukan AS, Inggris dan Israel.

Tapi, yang dihadapi pemerintah RI adalah Papua. Sementara kita sudah tidak lagi memiliki sosok negarawan seperti Gus Dur. Belum lagi, pengaruh Israel di sana juga cukup besar. Bahkan saya suudzon bahwa Israel sangat mungkin menjadi pemasok senjata untuk pasukan bersenjata yang ada di sana. Apakah pemerintah Indonesia tidak bisa menggerakkan para ulama dan pendeta untuk mengobati luka Papua? Ah, para jenderal yang mengelilingi Presiden kayaknya lebih suka cara-cara militer terus menerus. Apalagi para tokoh agama, terutama ulama sekarang sedang sibuk berpolitik “perang” menjelang tahun pemilu.

Tapi, dulu Papua direbut paksa dari Belanda atas bantuan AS. Lalu bukannya dibangun setara dengan Jawa, justru cuma disedot kekayaannya. Lagi-lagi kongkalikong dengan AS. Sekarang baru dicoba untuk dibangun fisiknya tapi dengan cara militer. Akankah PBB atas lobi-lobi negara pengincar emas ikut turun gunung untuk memperkeruh situasi?

Surakarta, 7 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.