Jika masih percaya ada pertentangan ideologi di zaman ini, berarti masih terperangkap di masa lalu. Perang ideologi sudah berakhir di 1965 dengan bubarnya Masyumi dan dihabisinya PKI.

Sejak itu ideologi bangsa ini sama, yaitu pembangunan. Maksudnya, menomorsatukan uang dan kekayaan di atas segala-galanya. Metodenya boleh tidak melibatkan tuhan, boleh juga dengan cara “syar’i” dengan nyuruh-nyuruh Tuhan agar mengabulkan target materi kita.

Peristiwa 1998 itu adalah penyebaran ideologi pembangunan agar lebih merata ke pelosok-pelosok desa. Jika sebelumnya ideologi pembangunan hanya diamalkan pemerintah, sekarang seluruh bangsa Indonesia menganut ideologi yang sama, yaitu pembangunan.

Dengan ideologi yang sama, kita akan khusyu’ saling bertengkar. Sebab tujuannya mencapai kekuasaan. Dengan kekuasaan kita raih kekayaan. Dengan kekayaan, segalanya bisa dilakukan. Keadilan? Itu jargon. Realitasnya susah. Sebab keadilan berbasis materi itu tidak mungkin bisa diwujudkan.

Makanya sila kelima Pancasila itu bicara keadilan sosial, bukan keadilan material. Keadilan sosial itu wujudnya tatanan. Penjaganya akal sehat, ketika yang kaya tidak rakus, yang miskin tidak ngemis, yang cerdik pandai tidak ngadalin, yang bodoh tidak ngeyel. Lha sekarang lihat sendiri, siapa yang mau menghendaki keadilan sosial? Hahaha.

Mari kita sambut kejayaan ideologi pembangunan. Bersama pohon beringin yang rimbun, kemudian ada banteng-banteng yang perkasa yang siap menjaga kekokohannya. Hidup pembangunan. Jayalah pembangunan.

Surakarta, 30 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.