Sebelum Syiah dijadikan ideologi bernegara masyarakat Iran, bukankah ia hanyalah sebuah kubu politik yang fanatik pada Ali bin Abi Thalib?

Kubu ini merasa sakit hati atas kemenangan diplomasi kubu Muawiyah dalam perang Siffin. Sakit hati itu semakin bertambah dengan pembunuhan Hasan pasca perjanjian Madain dan pembantaian Husain di perang Karbala.

Rasa sakit itu semakin disuburkan lagi dengan kebijakan bani Umayyah agar dilakukan caci maki tiap khutbah Jumat terhadap Ali dan keluarganya, hingga akhirnya dihentikan oleh Umar bin Abdul Aziz, raja Bani Umayyah yang bijaksana, lain dari pada yang lain.

Namun, sejak Syiah dipakai oleh penguasa-penguasa Persia sebagai madzhab negara dan teologinya mengalami perubahan-perubahan sehingga berbeda dengan kelompok Sunni, di situlah lahir keanehan. Misalnya seperti memuliakan Abu Lu’luah yang dulu membunuh khalifah Umar bin Khattab.

Saya selalu heran, apakah Abu Lu’luah dulu membunuh khalifah Umar karena dia penganut Syiah, atau karena dia adalah orang Persia yang fanatik pada kerajaannya. Ia marah negaranya dihancurkan oleh pasukan muslim di bawah kepemimpinan khalifah Umar. Sehingga ketika bisa balas dendam, ia luahkan dendam itu.

Jadi, jika sekarang orang-orang Syiah Iran memuji-muji Abu Lu’luah sepertinya itu adalah inovasi dalam rangka akulturasi madzhab dengan realita sejarah leluhur, bukan sebagai sesuatu yang faktual. Lalu mengapa setiap ada orang yang anti Syiah menghujat Syiah selalu bicara soal Abu Lu’luah ya? Kan ini nggak nyambung.

Yang Syiah aneh, kok bisa-bisanya membanggakan Abu Lu’luah. Yang anti Syiah juga aneh, kok bawa-bawa Abu Lu’luah. Kan lucu semua. Adakah yang bisa ngasih pencerahan kepada saya?

Surakarta, 25 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.