Ahli fikih masa lalu itu ya ibarat para pengacara zaman sekarang.

Makanya, kalau orang menguasai fikih tapi tidak membentengi dirinya dengan tasawuf, dia bisa sangat lihai untuk merumuskan hukum-hukum yang sesuai dengan selera nafsunya dan keinginan para penguasa.

Lha kalau yang versi berbagai jamaah Islam masa kini itu bagaimana? Saya agak ngeri untuk bilang tentang hal itu. Sebab gerakan-gerakan semacam itu sebagian besar pondasi fikihnya saja terkadang berat sebelah je. Bahasa kerennya, sudah mengalami idiokrasi.

Mereka hanya menetapkan satu versi lalu diikuti secara fanatik buta, sambil mengecap buruk versi lainnya. Parahnya lagi, tidak ada majelis untuk mendialogkan berbagai perbedaan ini agar disaksikan secara langsung oleh umat dan membiarkan umat memilih berdasarkan pemahaman mereka. Adanya cuma majelis-majelis versi ini, itu, ininya, dan itunya. Jadi yang beginian kok “maaf” mirip parpol kan ya, bahkan termasuk cara kampanyenya.

Makanya di zaman ini pun, para ahli fikih yang benar-benar ahli fikih biasanya tidak terlalu laku di pasaran dakwah. Sebab mereka kalau ditanyai sesuatu hal terkadang memberi jawaban yang mbulet, lama, dan detil. Umat butuh jawaban praktis dan teknis saja. Misalnya hukum babi? Haram. Padahal yang diharamkan itu memakan daging babi. Hukum shalat dzuhur? Wajib. Padahal saat status ini saya tulis baru pukul 6. Jadi hukumnya masih haram. Shalat Dzuhur baru wajib nanti sekitar jam 12 ketika sudah tiba waktunya.

Demikian banyak kelucuan-kelucuan fikih di masa kita hidup saat ini. Lucu tapi juga pahit melihat pertengkaran sesama umat Islam dalam perkara-perkara fikih, yang terkadang juga sarat kepentingan politik. Ah, memang beragama di zaman sekarang itu kalau tidak sambil cari laba bisa bikin kesepian ya. Zaman pop, beragama harus bergerombol dan bersertifikasi. Hahaha

Surakarta, 29 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.