Persoalan rokok itu terletak pada ketidaksadaran papan dan penguasaan industri rokok oleh kapitalis, bukan soal kesehatan. Dalam kenyataannya, orang-orang desa yang nglinting rokok dhewe hidupnya kebanyakan sehat-sehat saja. Apalagi para sesepuh yang hidupnya semeleh dan menikmati rokoknya sambil tirakat.

Maka dari itu, ya sebaiknya yang dikampanyekan bukan gerakan bahwa rokok merusak kesehatan, karena itu bisa berlaku juga untuk gula, daging kambing dll. Yang harus dikampanyekan itu sadar tempat dan situasi sebelum merokok serta gerakan nandur tembakau dan nglinting dhewe atau beli rokok produksi lokal.

Kalau gerakan anti merokok hanya didasarkan pada masalah kesehatan, maka produk kimia farmasi itu juga tidak kalah menyeramkan bahayanya karena membuat kita ketergantungan begitu mengalami sakit. Setiap pusing, nyeri, dll tubuh kita akan ketergantungan juga dengan pil-pil yang diberikan dokter atau dijual di apotek. Begitu bicara industri farmasi, kita juga akan masuk perangkap kapitalis lagi, karena industri rumah tangga tidak bakal payu memproduksi pil untuk dipasarkan para dokter.

Dalam situasi yang serba praktis seperti sekarang, kesadaran untuk ubet sendiri menjadi penting. Setiap hal yang menjadi kebutuhan massal pasti akan diambil alih oleh para kapitalis, kecuali masyarakat memiliki komunitasnya sendiri dan mempertahankan keberlangsungan perputaran transaksinya secara ketat sesama mereka atau minimal menekan konsumsi keluar komunitas mereka hingga serendah-rendahnya.

Mengharapkan pemerintah untuk membentengi seluruh aksi penjajahan ekonomi di zaman ini adalah hal yang mendekati mustahil. Karena pemerintah membutuhkan uang untuk operasionalnya, jadi mereka pasti butuh setoran rutin. Pajak rakyat tidak bisa diandalkan karena pengumpulannya kecil dan lama, paling cepat ya pajak industri yang sebenarnya juga berasal dari rakyat yang membeli produk tersebut. Belum lagi oknum pemerintah relatif sangat doyang dengan uang-uang gelap, maka semakin jauh panggang dari api bagi rakyat untuk berharap kepada lembaga yang sekarang berlaku mirip perusahaan jasa dengan pelayanan biasa-biasa saja, bahkan kadang-kadang nganu.

Kembali ke masalah rokok, ada sebuah perebutan hegemoni di sana. Tidak hanya peperangan industri rokok raksasa dengan industri farmasi, di sana juga sedang berlaku model tanam paksa modern yang membuat para petani tembakau kehilangan kedaulatan ekonomi. Sikap konsumtif masyarakat pada rokok tanpa memperhatikan siapa yang memproduksi juga kian membuat masyarakat dihisap oleh kekuatan kapitalisme.

Rokok hanyalah salah satu komoditas yang hari ini disalahpahami oleh banyak orang. Orang yang pro rokok hanya sering berkutat pada soal penyangkalan atas masalah kesehatan tapi abai pada industri rokok sehingga konsumsinya mengejar gengsi. Karena demi gengsi, maka terjadi pemborosan dan menyuburkan industri para kapitalis. Orang yang anti rokok juga sering naif pada kenyataan di lapangan bahwa orang yang merokok dan tetap sehat jauh lebih besar dari pada yang sakit-sakitan. Lebih parah lagi, yang anti rokok sering memojokkan dengan dalil-dalil agama yang akhirnya menimbulkan pertengkaran sengit.

Maka dari itu, akan lebih bijak jika para perokok maupun non perokok memiliki kesepakatan sosial yang adil tentang merokok. Merokoklah secara empan papan dan perhatikan tembakau dan produk yang dikonsumsi agar tidak membawa kita pada bunuh diri ekonomi. Yang tidak merokok, banyak-banyaklah melihat realita lapangan tentang kehidupan desa-desa yang alami dan para petaninya selalu nglinting dhewe agar ketakutan-ketakutan yang absurd semacam itu tidak membuat kita jadi tidak rasional.

Industri rokok raksasa dan industri farmasi telah mengepung kita. Jika kita beriman pada mereka maka tujuan penguasaan ekonomi mereka tercapai. Tapi jika kita selalu sadar bahwa Tuhan menciptakan tubuh kita dengan teknologi-Nya yang sempurna kita akan menikmati keseimbangan bahwa sehat dan sakit fisik adalah hal wajar dalam membangun keseimbangan hidup. Kerusakan-kerusakan permanen dalam tubuh kita, biasanya terjadi karena ketidakjujuran keyakinan kita yang harus ditebus menurut kehendak-Nya.

Ngawen, 13 November 2017

Tinggalkan Balasan