Wacana penjajahan yang penjajahnya adalah orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya harus mulai direvisi. Jumlah orang kulit putih yang ke Nusantara dan punya niat jahat sebenarnya tidak seberapa, tetapi mereka memiliki pengalaman untuk licik dan curang lebih awal akibat peristiwa-peristiwa pahit di Eropa.

Penjajahan baru terjadi setelah para elit pribumi memilih tunduk pada bangsa kulit putih dan berselingkuh memeras rakyat. Hal ini penting dicatat karena yang membuat bangsa kulit putih awet bercokol di negeri ini ya akibat dari kaum elitnya yang memilih menjadi partner mereka. Sekiranya karakter para elit kita suka yang hitam putih, niscaya begitu mereka datang dengan pasukan, kita memilih bertempur melawan mereka hingga tumpas atau menang mutlak. Tapi itu tidak terjadi, karena kita adalah bangsa yang sangat lentur dan khas dengan ketahanannya.

Digambarkan oleh salah seorang profesor asal Malang yang menjadi guru besar di Australia bahwa ketika sumpah pemuda dideklarasikan 1928, 90 persen pegawai pemerintah Hindia Belanda adalah orang Indonesia sendiri. Artinya dari polisi, lurah, pamong, bupati, dll sebenarnya ya berasal dari orang Indonesia sendiri. Belanda mungkin hanya memegang kursi Gubernur Jenderal, Gubernur, dan Residen.

Apakah semua orang Belanda jahat? Tidak. Banyak sekali orang Belanda yang setelah datang ke Indonesia justru bersimpati pada rakyat Indonesia dan memusuhi pemerintah Belanda maupun kaki tangannya dari kaum elit. Diam-diam mereka menulis dan menyerukan pembelaan. Meskipun demikian, kolonialisme adalah titik balik di mana manusia di seluruh dunia berubah cara berpikirnya. Kolonialisme adalah instrumen kapitalisme yang dampaknya merusak kedaulatan negara-negara yang diserangnya. Kolonialisme menandai era baru, bahwa raja-raja bukanlah penguasa mutlak atas sebuah wilayah, tetapi penguasa modalah yang perkasa.

Para raksasa modal yang jumlahnya hanya beberapa orang di Eropa berkuasa mutlak setelah berhasil mengontrol peredaran uang Inggris dan Prancis. Dan dari penguasaan ekonomi atas dua kerajaan besar Eropa itulah, kerajaan-kerajaan lain di seluruh dunia ditaklukkan satu per satu. Sejak itu, tidak penting siapa rajanya, yang penting mereka adalah pemegang kontrol atas peredaran uang emas, dan di kemudian hari uang kertas.

Hari ini, Indonesia belum beranjak dari kenyataan penjajahan ekonomi. Birokrat kita yang masih dipenuhi praktik korupsi dan suap menyuap membuat kinerja pemerintah bisa jadi jauh lebih buruk dibandingkan era Hindia Belanda. Kita tetap menjadi negeri tempat pemasaran apa pun. Apa pun laku dijual di sini. Bahkan anehnya, angka konsumsi bangsa ini dimasukkan dalam ukuran pertumbuhan ekonomi. Jadi angka produksi rendah asal angka konsumsinya tinggi, pertumbuhan ekonomi kita dianggap tinggi. Aneh kan.

Jadi ada baiknya, sekarang kita kembali mengurai masalah lokal di sekitar kita. Kita buka kembali sejarah dengan jujur, kita bandingkan dengan sekarang, lebih terperangkap mana bangsa ini dibandingkan sebelumnya. Apakah kita benar-benar merdeka? Atau sebenarnya kita terjebak pada pseudo-kemerdekaan? Kesadaran ini akan menuntun kita pada langkah selanjutnya.

Ngawen, 13 November 2017

Tinggalkan Balasan