Istilah “menerima perbedaan” itu kok gimana ya. Lebih tepatnya ya “mengakui perbedaan”. Karena perbedaan itu sesuatu yang jelas dan bisa dilihat, mosok diterima, ya diakui dong. Ketika beberapa pekan lalu Cak Nun hadir di Sukoharjo, beliau mengulas hal itu, dan saya masih loading sampai beberapa hari. Sampai akhirnya bisa menulis hasil tadabburnya di sini.

Misalnya, mosok orang Islam menerima Kristen atau sebaliknya, padahal keduanya berbeda. Jadi harusnya ya diakui saja bahwa ada fakta orang Islam dan orang Kristen, keduanya secara aspek keyakinan berbeda. Teruskan sendiri di kasus dan aspek lain. Dari kenyataan itu maka pertanyaan selanjutnya, terus mau apa? Bertengkar atau saling membuat kesepakatan agar harmonis. Maka disusunlah perjanjian bersama yang harus saling disepakati agar tidak menimbulkan masalah.

Cuma kita hari ini lumayan “diganggu” dengan keberadaan aparat negara yang sering tidak berperan sebagai penengah, tapi cenderung ke salah satu pihak. Kita dihantui dengan berbagai pagar yang bernama undang-undang atau peraturan sejenisnya sehingga kita justru lebih mengandalkan hal itu untuk saling menuntut satu sama lain dan merasa benar sendiri. Kita tidak terbiasa bertemu mewakilkan salah satu orang yang dipercaya untuk kembali mengevaluasi perjanjian sebelumnya dan membuat kesepakatan baru.

Karena hidup kita tidak diatur oleh kesepakatan-kesepakatan secara sadar semacam itu, akhirnya hari ini kita tidak terbiasa mempertanyakan sesuatu. Padahal sesungguhnya itu penting agar kita tidak tiba-tiba mengiyakan apa pun. Kalau kita terbiasa mencari alasan terdalam atas setiap hal yang kita jumpai dalam hidup, maka kita tidak akan jadi kaum anut grubyuk yang cuma hidup dalam alam opini orang lain. Kita tidak tiba-tiba menerima keyakinan orang tua kita hanya gara-gara bapak-ibu kita begitu. Kita tidak tiba-tiba bilang NKRI harga mati. Kita juga tidak tiba-tiba pro madzhab Anu dan anti madzhab Anunya. Hidup itu tidak ujug-ujug hakdesss.

Kita sekarang memasuki alam kehidupan yang ujug-ujug begitu. Dalam hal apa pun, orang pengin praktisnya aja. Makanya hari ini, lumayan susah mencari partner diskusi yang mau ngonceki berbagai hal dari akar-akarnya. Kita memasuki kehidupan yang serba judgement. Ga cocok sama maunya dia, kita dicap kafir. Kita ga setuju dengan sikapnya, kita cap dia bajingan. Kita jadi alergi terhadap perbedaan. Di sisi lain, kita terkadang jadi naif karena menganggap fakta perbedaan yang jelas terlihat secara obyektif, dianggap sebagai sama saja dengan alasan ditarik-tarik ke masalah hakikat. Setiap terjadi hal berbeda, kita buru-buru lari ke masalah hakikat. Padahal kita hidup dalam alam kenyataan yang butuh solusi konkrit.

Hidup itu ada sisi realitasnya. Maka perbedaan pasti terjadi. Jangankan hal-hal yang sangat bertolak belakang, wong yang berdekatan saja ada perbedaannya. Dalam sebuah keluarga saja terkandung perbedaan bermacam-macam kok. Makanya yang terpenting kan bagaimana kita mengakui perbedaan itu dengan jujur dan selanjutnya membuat keputusan atas perbedaan itu berdasarkan asas manfaat. Bahkan bila perbedaan itu harus berakhir dengan peperangan, ya kita pastikan peperangan itu sesuatu yang terhormat. Tapi apa kita hari ini mengerti tentang kehormatan dan harga diri? Wong setiap hari kita dipertontonkan tindakan-tindakan yang TIDAK TAHU MALU kok. Dan mungkin sekarang kita juga mulai menjadi manusia yang seperti itu.

Dengan kita menyadari ada perbedaan dan mengakuinya, maka kita akan punya sikap yang jelas. Karena yang hobi bertengkar dan menjelek-jelekkan itu, belum tentu karena mengakui perbedaan, lebih banyak dari mereka adalah korban karena ketidakjelasan pemahaman mereka sendiri atas sesuatu yang berbeda.

Juwiring, 9 November 2017

Tinggalkan Balasan