Menurut saya, partai nasionalis bisa berkoalisi dengan partai Islam itu sudah merupakan hal yang susah masuk di akal kok, meskipun mungkin bisa terjadi. Apalagi kok saat ini terjadi fenomena di DPR pusat satu koalisi, sementara di tingkat daerah kok bisa beda koalisi, ini semakin tidak masuk akal. Dan peristiwa yang tidak masuk akal ini dianggap masuk akal oleh kita semua. Jadi, mungkin saya saja yang gila ya.

Saya bisa menerima perbedaan pendapat selama pendapat itu logis. Tapi susah menerima sesuatu yang tidak logis. Jadi jika sekarang saya mulai meragukan parpol sebagai bukan parpol boleh dong ya. Karena kalau melihat dari praktiknya sekarang dalam pilpres hingga pilkada, fungsi parpol itu mirip angkringan yang memasarkan makanan yang dibikin orang lain. Dan pengurus parpol itu mirip bakul angkringannya yang lebih fokus bikin wedang sambil membuat nyaman pembeli, karena bikin wedang itu simpel dan menguntungkan.

Satu-satunya alasan logis bahwa partai nasionalis bisa berkoalisi dengan partai Islam, juga adanya inkonsistensi koalisi di tingkat pusat dengan daerahnya ya karena memang kepentingannya bukan ideologi dan nilai perjuangan, tapi uang dan kepentingan menyangkut jabatan. Nah kalau gitu ya berarti pernyataannya Voltaire berlaku kan, di hadapan uang agama semua orang sama. Jadi secara sistem, parpol-parpol kita dilanda kemunafikan serius. Saya tidak bisa membayangkan orang-orang yang baik di sana, pasti hati beliau-beliau ini menangis menjalani tradisi kemunafikan yang sangat mengerikan ini. Itulah mengapa sebaiknya kita tidak usah sering bertengkar soal personal, tapi pelajari sistem dan kritiklah sistem itu secara rinci, jika mampu tawarkan solusi.

Soal personal, yang namanya manusia itu ya pasti punya sisi baik dan sisi buruk. Seburuk-buruk politisi, saya rasa kok mereka juga tetap punya sisi baiknya. Dan politisi-politisi yang kita anggap baik sekalipun, pasti juga tersimpan borok di belakangnya. Maka mending doakan mereka yang baik-baik. Kalaupun marah, doakan hukuman yang baik dan bermanfaat, misalnya rasa gatal di selangkangan tanpa sebab yang hanya bisa sembuh jika sang politisi meluruskan niatnya kembali. Jika ada yang menyinggung Presiden Jokowi terkait personalnya, saya sebagai manusia pasti juga turut tersinggung, karena jika hal itu ditujukan ke saya, saya juga pasti tidak terima. Jadi benci boleh, tapi alamatkan kebenciannya pada sasaran yang tepat. Dan bencinya jangan lama-lama, nanti bikin sakit.

Juwiring, 20 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.