Kajian tentang khilafah saat ini menjadi agak anu sejak istilah “khilafah” dimonopoli oleh salah satu kelompok umat Islam. Bukan hanya membuat tidak nyaman, hal itu memancing segolongan umat Islam lainnya untuk mengejek istilah yang sebenarnya bagian penting dari wacana umat Islam. Jika wacana bersama kok dimonopoli satu pihak, ya begini jadinya.

Bagaimana sebenarnya khilafah yang sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi? Jawabannya tentu ada pada sejarah Nabi. Jika kita sepakat dengan contoh yang diajarkan beliau, mari kita tiru dan kelak mungkin kita bisa menyaksikan khilafah itu lahir kembali. Dan kita bisa merasakan nikmatnya Darul Islam, yang selama ini hilang tapi kita tidak merindukannya lagi. Karena tinggal di era modern ini bagi sebagian umat Islam sudah nyaman sehingga ridha dengan sistem negara Firaun semacam ini.

Hasil belajar saya pada sejarah Nabi menghasilkan pemahaman seperti ini, silahkan dikomparasi dengan pemahaman pembaca. Mengapa dakwah Nabi ditentang oleh kalangan pembesar Quraisy? Alasan faktualnya karena salah satu inti ajaran Islam adalah meletakkan derajat manusia sama tinggi. Artinya budak memiliki hak-hak kemanusiaan setara dengan tuannya. Banyak konsekuensi ber-Islam yang secara materi merugikan para pembesar kota Mekah yang bisnisnya berbasis pemberhalaan materi.

Tapi sebenarnya juga ada alasan politisnya yang bersifat makro. Saat itu ada pertarungan kekaisaran besar antara Persia dengan Bizantium. Pada awal pertarungan, Persia menang dan pengaruhnya sampai di jazirah Arab sehingga para pembesar Mekah adalah orang yang tidak ingin adanya gerakan anti-Persia. Hal itulah yang membuat tekanan kepada umat Islam, yang turut bersedih atas kekalahan Bizantium menjadi semakin besar. Hingga akhirnya Allah menghibur umat Islam dengan surat ar-Ruum.

Allah juga memerintahkan kepada Nabi agar memberitahukan tempat hijrah yang tepat bagi umat Islam agar dapat menyelamatkan keimanan mereka. Sebagaimana ikatan hati umat Islam pada kekaisaran Bizantium, maka Allah perintahkan umat Islam hijrah ke salah satu bagian dari negeri itu, tepatnya di Habasyah. Ketika sampai di sana, umat Islam mendapati raja yang adil dan penyayang yang bernama Najasi. Ia bisa menerima penjelasan al Quran sekalipun tidak menampakkan keinginannya ber-Islam dan bersedia melindungi kedaulatan umat Islam selama ia masih berkuasa. Konsekuensi politik atas peristiwa hijrah ini berarti umat Islam mendapatkan status pengakuan sebagai bangsa meskipun belum memiliki wilayah kekuasaannya sendiri.

Kapan umat Islam kembali ke Mekah? Setelah kondisi Mekah sudah tidak separah sebelumnya. Hal itu karena bersamaan serangan balasan dari Bizantium. Sementara itu, Madinah yang ditindas orang Yahudi secara ekonomi dan diadu domba lewat persekutuan sepihak orang-orang Yahudi yang diam-diam mereka berkoalisi dalam ekonomi mendapati sosok Nabi Muhammad ketika musim haji sebagai seorang pemimpin ideal yang mempersatukan mereka. Dengan opini politik yang telah terbentuk bahwa umat Islam adalah umat yang eksistensinya diakui kekaisaran Bizantium sekalipun belum memiliki wilayah kekuasaan, dilandasi dengan keimanan kepada ajaran Nabi, maka Madinah pun akhirnya membuka tempat untuk kehadiran sang Nabi dan para pengikutnya.

Nah, maka pembentukan kekhalifahan Islam dimulai. Awalnya kekhalifahan Islam berbentuk persekutuan antar kabilah. Penduduk Madinah yang berasal dari berbagai kabilah dan agama membuat perjanjian mendasar. Yaitu dalam urusan agama, masing-masing umat dipimpin oleh tokohnya sendiri-sendiri. Sedangkan dalam urusan muamalah, mereka terikat perjanjian bersama sesuai dengan keadilan. Mereka menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh yang disegani dan bisa dimintai pendapat jika ada perselisihan berbagai urusan di kalangan mereka. Artinya Nabi adalah pemimpin dalam konteks yang menyeluruh, tetapi bukan pemegang urusan kekuasaannya, karena hal itu tetap dipegang para pemimpin kabilah.

Sistem berbagi kekuasaan ini tidak berlangsung lama, karena orang-orang Yahudi mengkhianati perjanjian. Akhirnya terbentuklah model baru pemerintahan tunggal yang didominasi umat Islam. Prinsipnya tetap sama, Nabi adalah pemimpin tertinggi, dan urusan-urusan teknis kekuasaan ada pada para pemimpin kabilah. Dari apa yang saya dapat, Nabi ibaratnya semacam pusat perhatian karena segala kebesaran dan kewibawaan yang beliau miliki. Tetapi beliau tidak mendominasi semua urusan kaumnya dengan dikit-dikit bikin keputusan pemerintah. Dari pola-pola hadits yang masih tercatat sampai sekarang, sangat jarang nabi itu tutur-tutur menceramahi orang. Bentuknya pasti diskusi atau case by case. Bisa kita bayangkan perbedaannya dengan cara-cara dakwah para ustadz zaman sekarang.

Ketika nabi masih hidup maka Nabi menjadi pusat perhatian karena segala hal masih bisa dikonsultasikan ke beliau. Setelah beliau wafat, beliau hanya mewasiatkan umatnya berpegang pada al Quran dan sunnah beliau. Dalam konteks masyarakat Arab, wafatnya Nabi itu cukup mengkhawatirkan, karena kalau dalam penetapan pemimpin tidak memuaskan semuanya, sudah pasti akan pecah perang dan apa yang telah dipersatukan Nabi, akan hancur berkeping-keping. Melalui sebuah mekanisme syura diangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah. Ali bin Abi Thalib yang saat itu sibuk mengurus jasad mertuanya dan berkabung atas wafatnya sang guru baru membaiat Abu Bakar beberapa waktu kemudian. Kejadian ini menimbulkan banyak tafsir di zaman ini, terlebih dengan munculnya aliran keagamaan Syiah.

Ketika Abu Bakar wafat maka Umar diangkat sebagai penggantinya. Selama ini banyak pendapat yang menyatakan bahwa Umar menjadi khalifah karena ditunjuk Abu Bakar. Tidakkah kita berbaik sangka bahwa selama memimpin, Abu Bakar melakukan pendalaman aspirasi masyarakat dan melakukan syura sehingga penunjukan Umar sebagai khalifah bukan atas nama Abu Bakar sendiri, tetapi karena keputusan syura sebelumnya?

Ketika Umar wafat, tak ada yang mengingkari bahwa Utsman bin Affan diangkat setelah melalui musyawarah dari sahabat-sahabat utama yang masih hidup. Cara kepemimpinan beliau yang lembut dan tidak setegas umar kerap disalahpahami oleh orang-orang sebagai pembiaran. Pun demikian di zaman itu, banyak pejabat yang kemudian menyelewengkan kekuasaan yang dimandatkan oleh khalifah kepadanya. Hal itu menjadi peluang orang-orang yang ingin menghancurkan Islam dengan menebar provokasi kepada masyarakat yang akhirnya menghasilkan demonstrasi besar yang membuat sang khalifah terbunuh.

Kematian Utsman ini menyisakan polemik serius yang harus diselesaikan Ali yang juga diangkat sebagai khalifah melalui syura dari sahabat utama yang masih tersisa. Provokasi begitu gencar ditabuh oleh orang-orang yang tidak menyukai persatuan umat Islam. Muawiyah yang terbawa keinginan kuat untuk menuntut balas atas kematian Utsman akhirnya berselisih dengan Ali. Saad bin Abi Waqash pun sempat diprovokasi untuk mengambil alih kekuasaan Ali. Ali dan Muawiyah berhasil menjalin perdamaian. Tetapi penyakit untuk berpecah belah terlanjur menghinggapi sebagian umat Islam baik di kalangan Khawarij yang ekstrim maupun Syiah yang fanatik buta kepada Ali.

Setelah wafatnya Ali, perselisihan terus terjadi dalam kerangka politik dan penyalahgunaan kekuasaan menjadi hal sering terlihat. Ketika Muawiyah menjadi penguasa, umat Islam belum banyak bereaksi karena ia diakui sebagai khalifah setelah melalui pengakuan Hasan bin Ali selaku khalifah pengganti Ali. Maka para ulama pun memilih jalan terbaik yang menyelamatkan darah umat Islam. Namun, pasca Muawiyah dan Yazid diangkat melalui cara-cara dinasti, saat itulah sebagian umat Islam bereaksi. Husain yang melihat kemungkaran ini pun memprotesnya dengan berani. Perangai Yazid yang jauh berbeda dengan ayahnya dan para khalifah sebelumnya membuat Husain menjadi satu-satunya tokoh yang berani menentang pengangkatannya sebagai khalifah yang tidak melalui mekanisme syura. Hal inilah yang membaut Yazid marah besar dan membantainya di padang Karbala. Dan peristiwa itu dijadikan sebagai momentum hari besar oleh kalangan Syiah.

Dan sejak itu, konsep kekhalifahan ideal telah hilang. Kekhalifahan berganti menjadi kekaisaran di mana kepemimpinan politik diwariskan turun temurun. Bahkan saat Umar bin Abdul Aziz hendak mengembalikan ke sistem syura, nasibnya berakhir tragis diracun. Kemungkinan besar pelakunya adalah orang-orang dari dinasti Umayyah yang tidak ingin kehilangan kekuasaan politiknya atas umat Islam. Ketika sistem politik sudah tidak ideal, di mana ia hanya mewarisi sebagian fungsi kekhalifahan Islam, maka fungsi lainnya dilengkapi oleh para ulama. Sejak zaman itu, para ulama menjadi penyeimbang kekuatan penguasa. Mereka merdeka dan menjadi panutan umat Islam. Saran dan nasihat ulama ini kemudian menjadi pertimbangan para penguasa untuk membuat kebijakan agar tidak bertentangan dengan rakyat, sebab mereka tentu tak ingin kehilangan pengakuan kekuasaan.

Dinasti Umayyah dapat ditumbangkan oleh Dinasti Abbasiyah, karena ulama mulai memindahkan dukungannya kepada Abul Abbas dan pasukannya yang dipandang saat itu memiliki jiwa revolusioner untuk mengubah keadaan setelah kondisi umat rusak akibat kekuasaan Dinasti Umayyah yang semakin jauh dari prinsip-prinsip keadilan Islam. Pergantian kekuasaan ini dibayar dengan harga yang mahal dan mengerikan karena tertumpahnya darah umat Islam dari Dinasti Umayyah. Hingga Abul Abbas dan pasukannya ini digelari Sang Penumpah Darah. Pada awalnya kepemimpinan dinasti baru ini sesuai harapan. Namun seperti lazimnya kekuasaan, maka mereka berperilaku sama seperti Dinasti Umayyah. Hingga Allah menghukumnya dengan serangan pasukan Mongol yang mengerikan.

Dan sejak itu kekuasaan Islam secara politik sudah tidak terpusat lagi seperti zaman sebelumnya. Semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam dan semakin banyak bangsa yang memeluknya, Islam mengejawantah dalam berbagai kebudayaan dan pola kekuasaannya sendiri-sendiri. Meski demikian, para ulama tetap menegaskan pentingnya pengakuan atas seorang khalifah. Sehingga di setiap saat, jika ada seorang Sultan yang dipandang memiliki kekuasaan atau kewibawaan besar dan masih mau menunjukkan kesetiannya kepada Islam, maka disepakati untuk diakui sebagai khalifah. Dinasti Abbasiyah yang hancur dan tinggal menjadi semacam klan kecil itu lama-lama kewibawaannya memudar dan tongkat kekhalifahan dilanjutkan oleh Dinasti Utsmaniyah. Dinasti Utsmaniyah ini masih berusaha menjaga wilayah kekuasaan Islam dan berkorespondensi dengan imperium-imperium Islam lain seperti Persia, Mughal, dan kerajaan-kerajaan kecil di Asia Tenggara. Sampai akhirnya zionis memulai serangannya dengan meruntuhkan dinasti terakhir yang diakui ulama sebagai penyandang gelar khalifah.

Di tengah situasi umat Islam yang terjebak dengan berbagai paham saat ini maka kita akan mengalami bias-bias pemahaman soal kekhalifahan. Misalnya setelah institusi kekhalifahan dihapuskan, maka ada segolongan umat Islam yang menyetujui model negara-bangsa seperti yang dibangun zionis lewat Perang Dunia. Konsep negara sekular semacam itu saat ini dianut oleh mayoritas pemerintahan di seluruh dunia. Dan konsep negara-bangsa inilah hambatan terbesar untuk mewujudkan kembali bentuk khilafah. Mengapa? Karena ketika khilafah masih tegak, semua daerah yang terkontrol maupun terkoordinasi oleh kekhilafahan Islam disebut darul Islam. Di mana umat Islam dari berbagai bangsa berhak untuk tinggal dan belajar tanpa dibebani dengan visa dan dilabeli dengan status sebagai orang asing. Dengan kita mengikuti konsep negara-bangsa yang sekular seperti saat ini sudah tentu susah kita mengembalikan tatanan khifalah itu. Wong Anda pergi ke Saudi saja, oleh pemerintah Saudi, Anda diperlakukan sebagai orang asing yang waktu tinggalnya dibatasi oleh visa.

Sebenarnya ada satu negara berpenduduk muslim yang saat gencar-gencarnya terjadi migrasi pemikiran menuju ke arah sekularisme negara ini justru masih tetap bertahan dalam kerangka ketuhanan, yaitu Indonesia. Jika negara-negara lain sangat eksklusif terhadap urusan kebangsaannya sendiri, Indonesia memiliki anomali. Negara Indonesia terbentuk justru dari persekutuan banyak bangsa yang di masa lalunya mereka memiliki sejarah peradabannya sendiri-sendiri dan leluhurnya pernah berperang satu sama lain. Baik ketika berebut pamor kebesaran maupun ketika mereka diadu domba oleh para bandit kolonialisme yang merampok Nusantara. Ada warna yang mayoritas dimiliki bangsa Indonesia, yaitu kemiripan kebudayaan berlandaskan nilai-nilai spiritual. Meskipun berbeda-beda keyakinan agama, bahkan perbedaan madzhab, bangsa ini memiliki kemiripan pada konsep-konsep spiritualnya, sehingga umat Islam, Hindu, Budha, bahkan kemudian Katolik dan Protestan pun memiliki cara pandang unik berkaitan dengan Tuhan. Meskipun hanya Islam yang secara tegas menjelaskan dirinya sebagai ajaran monoteisme, agama-agama lain pun akhirnya memiliki pola yang sama dalam tataran pengajaran mereka kepada masyarakat.

Jika kita mencermati lahirnya Pancasila, maka tak bisakah kita membuat analogi seperti piagam Madinah. Ketika itu para pendiri bangsa yang terdiri dari tokoh nasionalis dan ulama menyepakati 5 hal pokok sebagai kesepakatan bernegara, yaitu 1) Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, 5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan adanya lima pilar perjanjian untuk mendirikan negara yang kemudian dituangkan aturan teknisnya di UUD 1945, maka sebenarnya Republik Indonesia bukanlah negara sekular, bahkan jika umat Islam mampu kompak, potret negara ini akan seperti Madinah pada fase awal kepemimpinan Rasulullah. Namun menyedihkannya ketika kemudian justru yang terjadi wacana-wacana kontraproduktif yang selalu ingin membenturkan antara Islam dengan Pancasila, dan itu terus terjadi hingga hari ini.

Maka dari itu, negara Republik Indonesia sampai kapan pun tidak akan bisa disekulerkan selama Pancasila tidak dihapuskan. Akhirnya, musuh-musuh yang menghendaki kehancuran negeri ini melakukan cara yang manipulatif dan kejam. Yakni menanam pion-pionnya ke dalam sistem negeri ini untuk menciptakan segala bentuk kemunafikan. Kalau mau jujur, berapa persen dari penyelenggaraan pemerintahan, penegakan hukum, dan pembentukan kebudayaan berdasarkan Pancasila. Hari ini benturan-benturan terus diciptakan dari berbagai kutub, tak terkecuali di kalangan umat Islam. Alih-alih ingin menjadi umat Islam yang kaffah, sebenarnya sebagian umat Islam di Indonesia yang terobsesi dengan berbagai kebangkitan tetapi kemudian gerakan lewat cara-cara impor yang kontraproduktif dengan apa yang diasaskan lewat Pancasila justru membuat keadaan kian rusak.

Padahal jika kita mau melihat sejarah ulama-ulama Nusantara yang pernah menjadi gurunya para ulama ketika Masjidil Haram dan Madinah belum direbut Dinasti Saud dari umat Islam, seharusnya kita bisa mulai berpikir mengapa kita tidak mengaplikasikan konsep lahirnya khilafah Islam seperti zaman Nabi di negeri ini. Di mana letak kufurnya Pancasila dan UUD 1945 sekiranya umat Islam secara akidah bisa menempatkan kedua hal itu sebagai perjanjian bernegara, bukan sebagai supremasi tertinggi. Toh secara tafsir, tidak mungkin Pancasila dan UUD 1945 diterapkan tanpa merujuk pada khazanah peradaban Islam yang sudah terbukti memberikan payung kehidupan kepada manusia di banyak bangsa selama beberapa abad sebelumnya. Mumpung Republik Indonesia saat ini sebenarnya masih menjadi negara sekular setengah hati, mengapa kita tidak berusaha untuk memulainya kembali agar negeri ini kembali berada dalam garis kekhalifahan Islam yang dulu diasaskan para ulama dari Malaka hingga Walisanga.

Hari ini jika ingin membangun kembali khilafah agar kita kembali dapat merasakan nikmatnya darul Islam yang sebenar-benarnya maka mestilah dimulai dari peneguhan diri agar diakui sebagai umat yang layak mendapatkan keberkatan dari Allah. Bangsa ini sebenarnya memiliki modal untuk itu, tinggal kemudian bagaimana kita memulai untuk meneguhkannya dalam konsep bangsa. Selama ini, para pemimpin politik kita masih tetap kalah berwibawa dibandingkan para ulama, meskipun banyak di antara mereka suka mempermainkan ulama dan banyak juga ulama-ulama palsu yang menipu masyarakat. Tetapi itu modal penting yang tidak dimiliki negeri berpenduduk muslim lainnya.

Timur Tengah terlanjur membara menuju kehancurannya akibat terpancing dalam perangkap Zionis yang akan mendirikan kekaisaran Israel Raya di masa depan. Persia terlanjur eksklusif dengan ajaran Syiah-nya. Asia Tengah terlanjur meluntur akibat kekuasaan rezim Komunis. Khurasan masih dilanda perang. India masih berada dalam tekanan dominasi kekuasaan Hindu. Tinggal Malaysia dan Indonesia yang paling mungkin untuk melahirkan peradaban Islam yang ideal seandainya kita bisa keluar dari adu domba melalui term yang sifatnya dikotomi, misalnya Islam Modern vs Islam Tradisional, Islam Nusantara vs Islam Berkemajuan, Liberal vs Fundamentalis, dan banyak berbagai provokasi yang dibangun dari pendekatan dikotomis semacam itu.

Jika kedaulatan umat Islam di Indonesia tegak, kita bisa mengekspor gagasan Pancasila yang sebenarnya secara implisit mewakili nilai-nilai Islam ini ke seluruh dunia. Negeri mana pun yang mengimpor Pancasila, akan memiliki cara pandang bernegara yang tidak Firaun seperti sekarang, sudah sekular dan eksklusif, menganggap bangsa lain sebagai orang asing lagi. Tapi semua tergantung umat Islam di negeri ini, apakah justru akan mengikuti jejak Timur Tengah, Barat, atau kembali menggali warisan-warisan para leluhurnya yang baik bagaimana memberadabkan Nusantara ini dari penjajahan Barat.

Jika umat Islam di Indonesia bisa mulai berpikir untuk bersatu, merebut Haraiman dari rezim Saudi bisa mulai dilakukan. Kita kembalikan kedaulatan dua tanah suci itu untuk semua umat Islam tanpa harus dikomersialkan lagi seperti saat ini. Jika umat Islam Indonesia bisa membebaskan Haramain, ya kita bisa membangkitkan darul Islam lagi. Ketika ada aliansi penguasa-penguasa negeri Islam di mana mereka mengangkat satu orang sebagai pemimpin di antara mereka, maka dengan sendirinya khilafah bisa terbentuk. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, posisi Indonesia bisa kembali diperhitungkan seperti zaman Bung Karno.

Apakah kita harus bergerak sejauh itu? Ya jika mampu. Hanya saja, jika membaca nubuat Nabi, yang bisa merestorasi khilafah kembali kelak cuma Imam Mahdi. Artinya saat ini yang perlu kita lakukan membangun kekhilafahan kecil di wilayah masing-masing. Bukan dengan senjata, tetapi aplikasi nilai-nilai Islam yang paling pokok seperti dalam bidang ekonomi dan pemerintahan. Kita koreksi sistem demokrasi di negeri ini yang terlanjur liberal agar kembali kepada sila keempat Pancasila. Kita kembali ke sistem demokrasi ekonomi, mungkin lewat pendekatan koperasi untuk menghentikan ekspansi kapitalisme agar terwujud keadilan ekonomi.

Kini semua kembali kepada umat Islam. Jika kita masih rindu kepada nikmatnya darul Islam, tentu kita akan tetap berupaya mewujudkannya dengan cara-cara yang benar dan adil. Bukan dengan meniru-niru pendahulu kita yang telah membuat kesalahan dengan menumpahkan darah. Atau memang sudah bernafsu ingin perang? Tunggulah kabar ketika Imam Mahdi telah datang, niscaya perang kita pasti di jalan yang benar. Jika tak sabar menunggu, mending berperanglah dengan tembok atau batu besar sendirian, tanpa harus memprovokasi yang lain.

Juwiring, 8 November 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.