Tidak perlu menuntut manusia untuk melahirkan al Ghazaly kembali, yang terbukti berhasil mendidik umat Islam untuk bangkit kembali setelah pusat peradabannya dihancurkan pasukan Mongol Tartar. Tidak perlu menuntut seseorang untuk menjadi ulama sekelas beliau. Warisan karya beliau masih ada, pemikiran-pemikiran beliau masih diwarisi generasi hari ini, walau tidak banyak. Mari kita gali lagi sumur itu.

Mongol Tartar menghancurkan Baghad hingga umat Islam kehilangan perpustakaannya. Lalu mengemuka debat-debat fikih tanpa akhir. Lalu muncullah sang Hujjatul Islam ini menyeru untuk kembali pada ilmu dan jihad. Yang beliau persiapkan adalah pasukannya Shalahuddin al Ayyubi, karena sudah pasti jika pasukannya ada, Allah dengan mudah menghadirkan sosok pemimpinnya.

Nah, hari ini entah mengapa, disadari atau tidak, orientasi-orientasi kaderisasi kita kok selalu bicara pemimpin melulu. Bahkan dalam ormas, selalu bicara bagaimana ormas memimpin umat. Kok itu seperti tidak ada dasarnya ya. Yang ada sejak zaman nabi itu pelayanan dan keilmuan. Dua hal itu dimaksimalkan maka akan lahir satu generasi yang kualitasnya tangguh. Sudah pasti satu di antara mereka akan jadi pemimpin, karena namanya perjuangan pasti harus mengangkat pemimpin.

Barangkali teori-teori kepemimpinan dan berbagai hal menyangkut konsep keumatan memang telah bergeser dari konsepnya semula. Umat Islam saat ini pola pikirnya tidak jauh beda dengan yang lainnya dalam memahami kepemimpinan. Bahkan menyebut pelayannya sebagai pemimpin, malah disamakan dengan “auliya”, kurang lucu apa coba. Makanya tidak heran nasib para guru bangsa, para ulama besar di negeri ini, yang karya-karyanya mendunia, yang kontribusi pemikirannya cemerlang tidak masuk dalam ruang pemikiran mereka. Merekalah sejatinya para “auliya”. Jika terhadap pertimbangan soal kemuliaan saja tidak punya, ya bagaimana akan memegang kekuasaan dengan kebijaksanaan. Piye bijaksana, wong orientasine we harta, kedudukan, dan kekuasaan.

Eh, tapi ketika saya menyebut nama al Ghazaly, mungkin ada yang tidak setuju lho. Karena saya pernah dengar ada yang mencela dengan keji karya-karya beliau. Jadi ulama yang menjadi inspirasi kebangkitan Islam sebesar beliau, yang melahirkan generasi pasukannya shalahuddin al Ayyubi, termasuk sang pemimpin pasukannya itu sendiri, di zaman ini dicela kok. Jadi, seorang Hujjatul Islam saja ditempatkan seperti itu, apalagi para ulama besar generasi ini, mereka tidak hanya tenggelam, tapi diinjak-injak oleh pergerakan kapitalisme dan digantikan para selebritis.

Hidup bermasyarakat dan bernegara itu tidak cuma butuh pemimpin saja, tapi lebih pentingnya butuh masyarakat yang bermental siap dipimpin. Pemimpin kan cuma satu, kalau nanti mati, diangkat lagi yang baru. Itu pun dia diangkat dengan syarat-syarat dapat meneruskan mandat pemimpin sejati kita di dunia, yakni Rasulullah Muhammad SAW. Lha kalau sampai sekarang kita masih menganggap Presiden, Gubernur, hingga Bupati masuk kategori auliya’, itu pertanda bahwa kita tidak hanya sedang dikalahkan oleh musuh Islam, tapi kita terjajah bener-bener sampai terperangkap dalam cara berpikir yang konyol.

Katanya kita maunya berjuang menjaga kedaulatan NKRI dan menegakkan keadilan. Lha tapi kalau cara berpikir kita bahkan tidak mampu melampaui kurungannya Bupati, apanya yang mau dijaga kedaulatannya. Fisik kita okelah masuk dalam kurungan peraturan NKRI saat ini, yang di beberapa segi masih harus diperbaiki karena memang sedang dijajah oleh kapitalisme Dajjal. Tapi kalau pemikiran kita kok juga masuk dalam perangkap penjajahan semacam itu, lha gimana kita berani mengambil keputusan untuk menyikapi kerumitan masalah negeri ini.

Katakanlah, jika dalam pilkada semua calonnya memang tidak kualified, harusnya rakyat bisa demo kan kepada parpol yang tugasnya mengkader calon pelayan rakyat. Termasuk mengancam tidak akan memilih, bukan karena anti pemilu tetapi karena memang tidak ada yang layak dipilih. Nah, bagaimana kita akan membangun rakyat yang sadar untuk menilai seseorang itu layak atau tidak. Sementara rakyatnya tiap hari kebanyakan cuma baca berita TV dan mengkonsumsi isu-isu murahan untuk mengenal seseorang. Lupa untuk mempelajari ukuran-ukuran kemuliaan yang sudah ditetapkan Allah.

Itulah mengapa seruan al Ghazaly agar kita kembali pada ilmu dan jihad ya agar kita itu tidak lagi ketergantungan pada opini, dan tidak menunggu waktu untuk berperang, emangnya jihad cuma sekedar perang. Logikanya, hakikat ilmu itu mempersatukan umat. Jika dalam menuntut ilmu kok membuat umat terpecah belah, berarti ada metode yang salah dalam menuntut ilmu. Termasuk ketiadaan adab terhadap guru, seperti yang dilakukan kebanyakan orang sekarang. Tindakan mencela al Ghazaly termasuk satu dari sekian banyak perilaku tak beradab generasi sekarang yang ngakunya lebih tahu soal agama.

Seolah-olah sistem 5 tahunan itu sudah final dan tidak bisa dirubah lagi. Mengapa tidak bisa diubah? Lha wong rakyat Indonesia ratusan juta ini tidak berani mengajukan aspirasi ramai-ramai kepada perwakilannya di MPR. Sudah terbukti banyak kekonyolan di berbagai bidang, rakyatnya malah sibuk di pemilunya terus. Jika kita sadar betul aturan demokrasi, maka kita hanya berbeda pendapat sebagai pendukung calon itu ya saat kampanye sampai pemilihan. Setelah itu kita seharusnya kembali bersatu sebagai rakyat yang memiliki pembantu bernama Presiden, Gubernur, dan Bupati.

Karena kita itu ndoro, yang punya pembantu dan mungkin pembantunya nakal, cara berbeda pendapatnya ya beda dengan saat kampanye. Jika saat kampanye kita berbeda pendapat dengan dengan tujuan mengegolkan pembantunya diterima di rumah tangga rakyat Indonesia. Nah setelah para pembantu ini bekerja, ukuran perbedaan pendapat kita seharusnya pada ukuran-ukuran kerumahtanggaan bersama dong. Wong jelas-jelas menggusur kayak gitu, kok masih dielu-elukan. Wong jelas-jelas ngapusi bola-bali, kok tidak dituntut untuk mundur. Ada masalah apa ini? Jangan-jangan kita yang menjadi “ndoro” aslinya tidak paham-paham amat mengapa mengangkat pembantu.

Lha kalau kita tidak paham dengan status pembantu kita, berarti 71 tahun ini kan kita ceritanya baru percobaan bikin rumah yang bernama negara. Lha wong masih coba-coba, kok kita ga mau belajar. Udah belum matang belajarnya, malah jajan aneka ideologi baru dari Arab, Amerika, dan berbagai tempat lalu dipasang di rumah kita. Karena waton jajan dan waton dipasang jadinya pating clarit ga karuan seperti sekarang.

Ini memang sangat lucu, tapi sekaligus sangat menyedihkan. Kita bikin robot yang disangkanya sudah paling canggih. Tidak tahunya sistemnya masih error di sana-sini. Sekarang dia terlanjur beroperasi dan menghancurkan kita, karena robot yang kita buat terlalu besar. Masalahnya kita sekarang cuma fokus pada robot dan bagaimana melawannya. Padahal robot itu masih punya stasiun pengendali meskipun sudah rusak karena diobrak-abrik robot kita sendiri dibantu alien sejak 1998.

Sekarang tinggal pilih, mau tetap hidup dengan robot semacam itu. Atau berjuang memperbaiki stasiun pengendali dan mengendalikan robot itu sambil mendesain robot baru yang lebih baik sesuai dengan harapan kita. Sekali lagi, stasiun pengendali itu saklarnya ratusan juta. Kalau yang mencet cuma 1 juta orang, ya robotnya tidak terkendali. Makanya jangan kebanyakan nonton robot, wis to ora menarik blas. Wagu ngono jik ditonton wae.

Juwiring, 13 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.