Barangkali yang bikin kita itu pusing sendiri adalah karena kita menganggap negara itu satu-satunya sarana untuk menyejahterakan rakyat dan uang adalah satu-satunya standar kebahagiaan.

Padahal jika kita komitmen serius pada Islam, umat Islam yang kaya-kaya seandainya bersepakat menghidupi keluarga yang miskin dengan mengoptimalkan fungsi pelayanan masjid saya yakin masalah ekonomi kita agak berkurang. Juga seandainya umat Islam sepakat menjadikan masjid dan lingkungan alam sekitar sebagai tempat belajar, kita pasti tidak akan ribut dengan problem persekolahan. Apalagi urusan politik seputar pilkada yang makin menjadi dzikir akbar umat Islam masa kini, pasti tidak menarik, karena dengan sistem berbasis masjid, umat Islam memiliki pola kehidupan yang transenden, ra nggagas para politisi mau gelut atau rebutan jabatan.

Masalahnya, apakah masjid dan rasa kebersamaan itu masih ada? Benarkah ada masjid yang beneran masjid, katakanlah seperti masjid Jogokariyan itu? Saya rasa fokus kita memang benar-benar teralihkan jauh dari Allah. Shalat kita pun barangkali tidak visioner untuk umat, melainkan sekadar menggugurkan kewajiban atau nafsu berburu pahala secara individu. Karena untuk shalat berjamaah saja kita sudah saling tersinggung gara-gara beda fikih, hingga saling berebut jadi imam, bikin masjid baru, atau yang paling konyol pensiun shalat sekalian karena mutung (saya kenal beberapa kawan yang pensiun shalat gara-gara tersinggung, dan sampai sekarang banyak yang belum mau shalat lagi).

Terkadang kita mati kutu dalam masalah yang tak kunjung selesai, karena kita tidak berani keluar dari pola pikir umum masyarakat. Padahal selama kita tidak melanggar nilai-nilai kemanusiaan, jika terpaksa disalahkan karena melanggar aturan negara, percayalah bahwa nilai keadilan itu lebih tinggi. Jika suku Samin saja berani hidup dengan keyakinannya, mengapa umat Islam yang banyak ini tidak berani mengambil inisiatif untuk kembali ke masjid. Apa lantas kalau kita menguatkan masjid, NKRI akan bubar? Saya yakin justru akan semakin kuat. Apalagi jika negara cuma mengurusi soal pertahanan militer, pencatatan sipil dan data teritorial, betapa bagusnya, para pengurus negara tidak akan ruwet kebanyakan urusan. Karena urusan lainnya sudah diselesaikan sendiri oleh umat Islam lewat sistem masjid.

Apa ini berlawanan dengan Pancasila dan UUD 1945? Tidak sama sekali. Wong justru masjid jadi pemersatu umat Islam kok. Bayangkan kalau semua kandidat politisi di regional masjid tertentu dikumpulkan bersama dan berkampanye di masjid, lalu setelah itu doa bersama, jika jujur semoga dilindungi, jika dusta semoga segera dilaknat secepatnya. Karena masjid itu menjadi pusat umat, maka tidak ada istilah kota besar. Karena keramaian publik dilhat dari keberadaan masjid, bukan mall. Percayalah, nanti akan banyak turis asing yang datang, karena mereka butuh tempat menenangkan jiwa. Cukup dikasih syarat berpakaian sopan dan libur dulu minum bir sambil ciuman di depan publik.

Bukankah saat ini umat Kristen dan agama lain juga menjadikan rumah ibadah sebagai basis pelayanan umat. Jika mereka saja menggunakan konsep masjid seperti zaman dahulu, kenapa umat Islam malah tidak. Lha sebenarnya umat Islam sedang berkiblat kemana? Atau memang Islamnya kita sekarang itu sebenarnya sedang bercanda? Naudzubillah min dzalik.

Surakarta, 11 Oktober

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.