Sebelum revolusi Arab berkecamuk tak berujung seperti sekarang, para pemimpin oposisi di Arab sepertinya kurang baca, mungkin juga terlalu bernafsu untuk gantian berkuasa. Harusnya mereka banyak baca dan belajar tentang Indonesia. Dulu, negeri ini juga pernah terjadi gejolak perang, banyak sekali. Namun sepertinya mereka melihat Indonesia itu dengan sinis.

Selain makar-makar PKI yang pernah mengganggu stabilitas negara, pemerintah RI pernah menghadapi kondisi berat melawan PRRI/Permesta. Itu dilema, karena kaum oposisi tidak puas dengan pemerintahan Bung Karno yang dianggap mengabaikan aspirasi rakyat, khususnya umat Islam. Berperang melawan pihak yang mengaku menjadi representasi mayoritas bangsa Indonesia, berat sekali bukan.

Di tengah masa perang yang berat, datanglah senjata-senjata bantuan dari Amerika dijatuhkan cuma-cuma di beberapa titik di Sumatera agar diambil para pemberontak. Para pemimpin PRRI/Permesta sadar bahwa perseteruan mereka dengan pemerintah RI mulai dicampuri pihak asing yang mengharapkan bubarnya NKRI. Maka mereka segera menyerah ke Jakarta dan selesailah perang besar itu. Pemerintah RI pun mengampuni para pemimpin PRRI. Semua berakhir indah, NKRI tak jadi pecah.

Hari ini, Timur Tengah membara, bangsa Arab yang dulu kuat pecah menjadi banyak negara. Anehnya, mulai banyak rakyat negeri ini ngefans sama mereka. Apanya yang menarik sih? Leluhur mereka pasti juga sedih kalau lihat anak cucunya sekarang perang saudara kayak gitu. Nah, sebagian orang di sini malah jadi cheerleader mereka. Piye sih? Atau memang perang itu asyik, bunuh-membunuh itu keren? Keren mbahmu. Uteke neng ngendi.

Juwiring, 3 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.