Kalau membaca dengan detil polemik-polemik kekuasaan Islam sejak wafatnya Ali bin Abi Thalib, kita akan mengerti bagaimana jasa besar para ulama dalam memelihara persatuan umat Islam sehingga meskipun situasi kekuasaan para khalifah itu penuh dengan perang saudara dan perebutan kekuasaan, umat lebih banyak mengikuti para ulama, sehingga tetap adem.

Para ulama dengan berbagai perbedaan pandangan keilmuannya masih lebih mampu berdialog ketimbang para penguasa yang kalau berbeda kepentingan, akan saling menundukkan satu sama lain. Dalam kekuasaan, umat Islam baru bisa menikmati kehidupan yang damai jika kebetulan yang berkuasa adalah raja yang sangat kuat dalam memenangkan pertempuran/percaturan politik dan pribadinya memang baik serta cinta pada rakyat. Itu jumlahnya sangat sedikit sepanjang sejarah Islam.

Kondisi itu, setahu saya terus berjalan hingga hari ini. Maka jika kita masih terbiasa ikut berkonflik dengan sesama umat Islam, meskipun alasannya karena perbedaan madzhab sekalipun, asline ya karena kita diliputi berbagai kepentingan untuk mendukung orang yang kita ikuti, yang konon disebut sebagai ulama. Ulama yang sejati, pasti akan menasihati umatnya untuk tidak bertengkar dengan manusia lainnya, apalagi saudaranya sesama muslim. Mereka tidak mungkin membiarkan perbedaan pandangan di antara mereka menjadi konsumsi publik yang luas sehingga menimbulkan perpecahan umat.

Maka dari itu, bersikap adilah pada urusan kekuasaan agar kita tidak berlebihan dan maniak dengan urusan politik. Kekuasaan memang terkadang dibutuhkan untuk memelihara keamanan dan ketertiban. Tapi jika kekuasaan mulai mengganggu kedaulatan, terlebih melahirkan penindasan-penindasan seperti zaman ini, sepertinya harus mulai dipertanyakan lagi urgensi kekuasaan, terlebih bagi umat Islam. Umat Islam itu sudah jelas memiliki panutan dan tinggal bagaimana hidup dalam komunitas yang adil, karena masing-masing individunya mengerti tugasnya dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

Jadi menurut saya puncak peradaban Islam itu terjadi jika kekuasaan semakin tidak diperlukan secara luas, karena manusia sudah bisa hidup damai satu sama lain dalam kewajaran tindakan mereka sebagai manusia. Maka puncak KEKHALIFAHAN ALAA MINHAJIN NUBUWWAH itu bukanlah sebuah imperium raksasa yang penuh dengan koleksi senjata dan tumpukan anak panah, melainkan sebuah kehidupan masyarakat yang wajar di mana mereka memusyawarahkan urusan-urusannya dan menghormati orang yang mereka akui sebagai pemimpinnya.

Mengapa tidak kita cicil sejak sekarang untuk hidup dengan pendekatan akhlak. Biar tidak dikit-dikit bertengkar pada urusan-urusan fikih yang melelahkan, atau suka mengulik urusan keyakinan orang sembari menggalang massa demi memuaskan nafsu pertengkaran. Nalar awam kita pasti tidak bisa menerima adanya pertengkaran rame-rame. Masak iya, kita mau bertengkar dengan cara keroyokan, kecuali memang ada seruan mendasar untuk melawan penindasan yang sama-sama kita rasakan. Lha ini, urusan perbedaan kok sampai keroyokan. Ya biarin to yang merasa senewen menyelesaikan urusannya sendirian, jangan ngajak-ajak orang lain yang juga punya kesibukan.

Juwiring, 8 Mei 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.