Lalu bagaimana seharusnya kita menghadapi realita zaman ini yang sudah dikepung negara, sistem ekonomi global yang ribawi, hingga organisasi-organisasi keagamaan yang menganggap paling benar sendiri dan menyalahkan yang lainnya? Ya tetap pada prinsip manusia, bahwa karena semua itu buatan manusia, ada sisi buruk dan baiknya kan. Artinya tidak usah ekstrim mau membubarkan negara segala atau menggantinya dengan ini itu, wong paling juga ditumpas.

Saya lebih sepakat dengan pendapat Syaikh Imron N. Hosein bahwa penguasa di seluruh dunia saat ini sudah merepresentasikan Ya’juj dan Ma’juj karena begitu parahnya sistem yang berjalan. Kecuali di negeri ini, kebanyakan negara di dunia juga meniru pemerintahannya Firaun, yakni memakmurkan bangsanya sendiri sekalipun harus menindas bangsa lain, mengagungkan ideologinya melebihi Allah. Kalau di negeri ini mungkin levelnya di atas pemerintahan Firaun, wong sama rakyatnya sendiri saja menipu dan suka mencuri. Nah, jika ijtihad beliau itu benar, maka berarti sudah tidak ada kekuatan normal orang beriman yang bisa mengalahkan mereka semua, kecuali Allah sendiri yang menumpasnya.

Apa lantas kita berpangku tangan? Ya tidak dong. Wong justru karena Ya’juj dan Ma’juj itulah kita mengalami kekacauan yang sangat parah. Sudah tata nilai kehidupannya sangat Dajjal, tata pemerintahannya Ya’juj dan Ma’juj, mantap sekali kan. Tapi itu semua bisa kita hadapi dengan tenang. Caranya? Ya kembali jadi manusia dan hidup dengan tata nilai kemanusiaan sesuai yang Allah ajarkan dalam al Quran dan Nabi Muhammad contohkan. Lha apa sekarang kita bukan manusia? Nah itu, coba periksa lagi.

Saya sendiri masih tidak yakin bahwa saya manusia yang utuh. Wong saya masih takut sama negara. Takut kalau rezeki besok tidak turun. Takut ini itu sehingga belum berani melamar anak orang. Masih takut banyak hal pokoknya. Ukuran kemusyrikan saya masih cukup tinggi sehingga saya pun tidak berani menyesatkan orang, apalagi ngurusi akidah orang. Wong kondisi saya aja memprihatinkan seperti ini. Kalau saya manusia utuh, harusnya hidup saya lebih santai dan keruwetan negara maupun dunia seperti ini tidak akan menakutkan bagi saya.

Tapi hari ini saya belajar dari banyak ulama yang saya temui di tengah masyarakat, yang tidak terkenal tetapi mereka menyimpan ilmu-ilmu sejati dari manusia. Setidaknya itu membuat saya lebih berani untuk menghadapi Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, minimal untuk keselamatan diri saya sendiri dulu. Dari mereka saya tahu bahwa kunci kehidupan itu ada pada kekuatan diri yang sudah Allah setting sejak dari perjanjian kita dengan-Nya. Kalau aji-aji itu kita pakai, insya Allah kita tidak akan kena sawabnya Dajjal maupun Ya’juj dan Ma’juj yang begitu dahsyat menguasai dunia saat ini.

Jadi kita tidak perlu berpikir heboh soal mengambil alih negara. Apalagi melawannya dengan mengangkat senjata. Percuma, wong setiap kita bikin organisasi, parpol, ormas, kalau sudah membesar prosentase pejuangnya justru makin sedikit. Kebanyakan adalah penumpang yang cuma ingin numpang status, cari kekayaan dan kedudukan, atau malah menjadi pengkhianat nilai-nilai perjuangan yang diasaskan. Dan itu pemandangan yang selalu kita lihat sehari-hari kan. Semakin berdekatan dengan kekuasaan dan kekayaan, semakin riuh rendah urusan keributan semacam itu. Bahkan koalisi antar negara pun sanggup diwujudkan demi itu.

Lagi pula, dengan prinsip bahwa manusia itu ada sisi baiknya dan ada sisi buruknya, maka negara, parpol, ormas, dan organisasi lainnya juga pasti begitu, wong bikinannya manusia juga. Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah melakukan suwuk atas organisasi atau apa pun yang kita berada di dalamnya. Tentu saja tingkat kesulitannya masing-masing sesuai dengan pilihan tempat kita berada. Tidak usah iri, wong pahalanya nanti juga masing-masing. Kayak rebutan duit saja.

Yang di parpol maupun di birokrasi ya berjuang agar tidak menjadi penerus koruptor. Yang di pendidikan, sosial kemasyarakatan, kebudayaan, dan segala bidang lain, semua bisa menjalankan perannya sendiri-sendiri. Dan biasa saja, ada yang tumbang di awal sampai tamat, ada yang kuat di awal tumbang di tengah bangkit di akhir, ada pula yang kuat sejak awal hingga akhir. Ya perjuangan itu begitu, tinggal kita mau jadi yang seperti apa. Ini penting disadari agar kita tidak mudah kecewa dengan teman kita yang berpindah haluan. Kita tetap jadi teman dan saling mendoakan kebaikan.

Juwiring, 30 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.