Kadang geli juga kepada sebagian orang yang terlalu tendensius dalam menjelekkan partai-partai Islam. Okelah memang di dalamnya juga banyak oknum yang tingkahnya tidak jauh beda dengan para politisi lainnya. Kalau ada politisi dari partai Islam yang terkena kasus, bullyingnya melebihi partai-partai nasionalis yang politisinya sebenarnya lebih banyak yang tertangkap.

Tapi jika kembali ke gagasan dasar pendiriannya, partai-partai Islam itu lebih berani untuk menunjukkan pilihannya sebagai tempat aspirasi umat Islam, ketimbang partai nasionalis yang buka sayap Islam di dalam organisasinya. Mirip bank konvensional yang buka cabang bank syariah. Bukankah ide semacam itu sebenarnya merendahkan Islam (saya tidak berani menyebut menistakan), masak disempilkan di dalam sebuah organisasi.

Tapi ya sayangnya partai-partai Islam tak kunjung melakukan konsolidasi. Mbok ya kalau bisa melebur saja jadi satu partai, wong Islam itu juga cuma satu. Yang bermacam-macam kan madzhabnya. Kalau aspirasi politik umat Islam disekat oleh mazhab ya bagaimana umat Islam di Indonesia bisa mewujudkan pemerintahan yang nilai-nilai kemasyarakatannya dipayungi oleh Islam. Perbedaan madzhab yang tidak dijembatani lembaga syura inilah yang bikin kita ruwet. Maka jika partai Islam itu satu, kan salah satu fungsinya menjadi wadah untuk mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan yang ada. Itu bisa terwujud kalau umat Islam masih menyukai musyawarah.

Problemnya, masih banyak umat Islam saat ini yang sibuk mempertentangkan Islam dengan Pancasila. Padahal seharusnya berijtihad bagaimana memaknai dan menerjemahkan Pancasila dengan sudut pandang ke-Islam-annya. Jika kita umat Islam yang baik, ya tidak akan meletakkan Pancasila sejajar apalagi lebih tinggi dari Islam dong. Wong dalam sejarah penyusunan Pancasila, para ulama berperan penting di dalamnya, artinya Pancasila adalah turunan dari konsep-konsep Islam. Apalagi mumpung ini eranya tidak seperti Orde Baru yang memaksakan satu penafsiran tunggal atas Pancasila.

Nah soal pentingnya partai Islam dalam mewujudkan aspirasi politik, kemunculannya juga terpaksa karena ada partai nasionalis di kala itu. Seandainya parlemen kita sistem pengisiannya tidak menggunakan metode parpol, tetapi melalui perwakilan profesi dan kebudayaan ceritanya akan lain lagi. Lahirnya gerakan politik Islam adalah respon umat Islam Indonesia atas lahirnya negara-negara sekuler di dunia. Indonesia unik, pemerintahannya itu setengah hati antara sekuler atau mengutamakan nilai-nilai keagamaan. Sikap setengah hati semacam itulah celah yang dimanfaatkan oleh para kapitalis untuk mengadu domba antara sesama umat Islam.

Tapi ya sudah, semua sudah terlanjur. Dan kenyataan pahit yang kita lihat adalah generasi muda sekarang itu sikapnya terhadap Pancasila sangat ekstrim. Ada yang memuja Pancasila hingga tidak jelas pengamalannya atas nilai-nilai agama. Ada yang menginjak-injak Pancasila karena dinilai bertentangan dengan agamanya. Dan yang lebih banyak jumlahnya adalah generasi yang cuek terhadap Pancasila. Lha kalau perjanjian bernegara berupa Pancasila dan UUD 1945 tidak digagas oleh anak-anak bangsa, apa nanti negara ini nggak rawan diambil alih pihak lain? Nah, pikiren dhewe.

Ngawen, 19 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.