Teman-teman yang sering disebut “kiri” oleh sebagian yang merasa “kanan” harus diakui bahwa perhatian mereka terhadap sastra dan literasi bahasa Indonesia jauh lebih besar. Bahkan yang dikategorikan “liberal”, harus diakui tulisan-tulisan mereka jauh lebih enak dibaca, sehingga kalau tidak punya pegangan prinsip bisa terhanyut dalam alam pemikiran yang mereka tawarkan. Itulah kenyataannya.

Dan sangat disayangkan, kebanyakan umat Islam lebih suka mengejek dan membuat pernyataan-pernyataan bodoh bin provokatif dengan label-label yang tidak bermutu, bukan melawan dengan karya yang setara. Ini adalah hal yang menyedihkan, karena dahulu bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia diasaskan oleh para ulama, sementara hari ini kebanyakan para ustadz justru bukan orang yang mengerti sastra bahasa negerinya sendiri.

Akhirnya kita sering diributkan pada persoalan istilah dan penggunaan kata. Soal alih tulisan dari huruf Arab ke huruf Latin saja bermasalah, lihat saja kasus menulis Insya Allah atau Insha Allah. Belum lagi permasalah yang remeh temeh yang sebenarnya akan selesai jika umat Islam memiliki ahli sastra yang disegani dan dihormati umat Islam seperti Hamka di masa lalu. Sekarang sebenarnya umat Islam masih memiliki beberapa pakar yang luar biasa, hanya saja, siapa yang peduli dan mau belajar pada mereka. Wong gara-gara suka sastra, justru akan digelari sebagai “liberal”, “kiri” dan sebagainya.

Saya sendiri sebenarnya bukan orang yang dikatakan paham sastra. Cuma sejak kecil sering bersentuhan dengan karya-karya yang kata para senior atau guru saya itu adalah karya sastra. Karena sastra itu sendiri jika dipahami secara definitif malah bikin saya pusing sendiri. Pokoknya karya itu saya baca, saya nikmati, saya ambil manfaatnya. Seperti itu saja.

Dengan menjamurnya media sosial dan layanan pesan singkat, umat Islam semakin tidak bermutu dalam berkomunikasi. Kita akan lebih suka berbagi dengan tagline “copas dari grup sebelah”. Tidak ada kesadaran atas kualitas isi, kualitas tulisan, maupun kualitas dialektika dari tulisan yang kita bagikan itu. Pokoknya dapat kabar, entah benar entah salah, sebar. Dan ini semakin mematikan nalar kita pada kesadaran sastra dan literasi itu sendiri. Umat Islam menjadi obyek dari permainan informasi dan korban dari permainan isu. Hasilnya, lihat sendiri bagaimana umat Islam sibuk bertengkar satu sama lain.

Jika pertengkaran sesama umat Islam kurang seru, nanti masih merembet dengan umat lainnya. Bahwa fakta adanya gerakan umat lain memurtadkan umat Islam, itu kan sah-sah saja. Asal umat Islam punya gerakan sistematis juga untuk memurtadkan umat lain dari agama mereka. Sayangnya peristiwa religius yang seharusnya disikapi dengan saling menunjukkan akhlak yang baik, justru diwarnai dengan kebencian, kecurigaan, dan tuduhan yang tidak bermutu. Suasana ini menjadi sangat intoleran dan akhirnya berujung pada perang, bakar-bakar, dan konflik panjang. Dan sudah pasti situasi semacam inilah yang dikehendaki oleh kekuatan politik baik dalam negeri maupun luar negeri untuk bermain dan menikmati kemenangan.

Judul tulisan dan isinya sebenarnya tidak jelas, entah berkaitan atau tidak. Ya seperti inilah tulisan saya pagi ini. Semoga bermanfaat bagi yang membaca (dan mengambil manfaatnya).

Juwiring, 30 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.